Sajak-sajak Anto Narasoma

Ketika Kehabisan Kata-kata

aku kehabisan kata-kata,          mulut hanya bicara                   kalimat menjadi
ketika derita rohingya            ketika kata-kata                     terurai setelah skenario
membanjiri kalimat di             mengucap luka.                       menginjak-injak harga
atas ucapan duka lara.                                                  diri di balik kelamnya
                                   mulut hanya                          sejarah.
aku kehilangan paragraf,          berkata-kata jika
ketika kisah-kisah                wanita dan anak-anak                 pada akhirnya,
membanjiri luka di                terkulai di atas bangkai             aku kehilangan bab dari
atas kepedihan anak-anak          kebencian yang busuk dalam           rentang sejarah yang
dan wanita.                       cerita.                               mengucap kata-kata
                                                                        di atas perahu
aku kehilangan tanda              ketika pengusiran                    pengungsian yang penuh
baca, ketika kalimat              dan kekejian                         lipatan dan ucapan
tak lagi memberi                  memorak-morandakan kata              kepedihan.
makna.                            kata, kalimat menjadi                aku kehilangan
                                  terbelah dan mengucurkan             kata-kata dalam diam.
                                  kepedihan.                            
                                                                                  September 2017 

Melodrama Lelaki Rohingya

lelaki itu duduk                    segerombol lelaki,             lelaki itu,
berkabut. kepulan                   wanita dan anak-anak           mengucurkan airmata
asap rokok menguap                  tak mampu bangkit              ketika asap rokoknya
dari mulutnya yang                  dari pengusiran di             bias dihalau kekejian
menyimpan berjuta                   tanah kelahirannya.            yang abadi dalam
ketakutan.                                                         ingatan.
                                    sebab,
dari cahaya matanya,                keyakinan telah                kini,
keredupan berkelap-kelip            berbaur dalam darah            matanya nanar
melintasi kebingungan.              dalam kesucian dan             menatap kabut
                                    kebesaran-Nya                  membiaskan asap rokok
antara kecintaan dan                tapi tak mampu                 yang menjauh dari
kenistaan, ia tetap sedih           menghilangkan kepedihan        cita-citanya,
dalam tujuh purnama.                yang menjadi duri.             sebagai tuan di
                                                                   tanah kelahirannya

                                                                             September 2017


                        Rohingya                                            Petaka Rohingya      

hidup seperti apa              jika daging dan tulangnya            ratusan orang menjamur
jika tanah tempat              berkubang darah                      ketika kebencian ras
berpijak menjauh dari          rohingya itu haram                   menggelegak dalam
pikiran?                       bertasbih di hamparan waktu          kemarahan.
                               di mana lagi langit-langit             
matahari, kabut dan            burma menguburkan                    dari kulit hitam kecoklatan
awan  yang memberinya          kepedihan ini?                       tak pernah luntur
ruang                                                               karena akidah dan
basah disiram airmata          lihat,                               keyakinan adalah
anak-anaknya.                  ribuan biksu yang                    harga mati.
                               menghunus pedang tak
padahal,                       lagi bicara soal moral dan           serpihan surat pun
kulit dan jiwanya              kemanusiaan dari                     tercecer di antara
yang selalu menyebut-nyebut    mulutnya yang busuk                  kabar yang tertulis pada
asma-Nya, tak pernah           mereka hanya menanamkan              harian di tahun
berhenti menyungkurkan         berjuta kebencian,                   lalu.
dahi.                          merencah-rencah keimanan
                               meludahi harga diri                  seperti sampah,
apakah udara yang              hingga laut dan sungai-sungai        menggunung dalam
dibubuhi nikmat dalam          myanmar                              catatan. hanya bangsamu
tiap ruang                     bergelombang                         yang terbuang di atas serpihan
haram baginya                  merendam tempat berpijak             perahu-perahu kertas.
melafalkan dzikir ke           dan menistakan                       apakah sebuah kehinaan
orang-orang kampung            keberadaanmu yang                    ketika sujudmu
itu?                           basah airmata.                       menyungkurkan hati
                                                                    baginya selalu menjadi
duh,                                          September 2017        petaka?
betapa kejinya                             
suara yang menistakan-Nya                                                             Agustus 2017
itu, mengusir
menginjak-injak kepala
memburu dan menancapkan
makian di atas
kesucian firman-Nya
yang teduh.



Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.