Di Dataran Weston West

Cerpen Anto Narasoma

TIGA tahun aku bekerja di perusahaan asingmilik pengusaha Amerika Serikat, Thomas Anderson.Perusahaan besar Amerika yang bergerak di bidang pertambangan emas ini, menawarkan semangat dan kerja keras. Selama bekerja, banyak kawan-kawan terdekat yang menjadi sahabat karibku. Mereka itu datang dari India, Filipina, Thailand, China dan Vietnam. Wuih, jika pulang kerja, suasana di penginapan kami ramainya bukan main.

Apa karena kami sama-sama dari Asia, maka dalam pergaulan sehari-hari ada kesamaan dan ada pula yang asing bagi kami. Terutama dalam kebiasaan dan cara kehidupan sehari-hari. Jika terjadi perbedaan, kami saling memberi tahu maksud dari perbedaan itu.

‘’Bangsa kami selalu menghargai prinsif kemanusiaan.Terutama terkait dengan budaya masyarakat. Terutama dalam menghargai eksistensi seorang gadis,’’  ujarChanarong, seorang pemuda dari Thailand.

Pemuda ini berwajah tampan.Kulitnya putih kemerah-merahan.Murah seyum dan mudah tertawa ketika ada di antara kami yang bercerita lucu. Ia punya pacarsangat cantik, namanya Chailai. Saat enam bulan aku bekerja, Channarong bercerita tentang kebiasaan masyarakat negeri Gajah Putih, dalam pergaulan sehari-hari.

‘’Inilah pacarku. Senyumnya manis, kan? Aku sudah lima tahun berpacaran dengan Chailai. Kelak jika ada cuti nanti, aku akan langsung menikahinya,’’ ujar Channarong, tersenyum.

Akupun tersenyum.Kulihat wajah di balik foto itu.Wuih, memang cantik. Sesuai namanya Chailai, kecantikannya begitu alami. Dalam foto itu, Chailai mengenakan baju tradisional Thailand. Ia tersenyum, terlihat giginya  yang putih dan berjajar rapih.

‘’Wah, pacarmu ini terlihat tradisonal sekali, Channarong,’’ kataku, menepuk bahu pemuda itu.

‘’Yah, aku sangat senang dengan gadis-gadis pedesaan negeri kami. Selain terlihat alami,  mereka itu sangat bersahaja dan cantik alami,’’ ujar Channarong.

Hari senja. Cuaca yang tadinya panas, mulai redup. Setelah lebih dari delapan jam kami bekerja, akhirnya kami istirahat. Segala peralatan tambang yang berseliweran di sana-sini kami rapihkan. ‘’Marno, aku pulang  ke penginapan dulu, ya? Malam nanti kita jalan-jalan ke WestonWest Virginia.Kita ajak juga Xiao Jun dan teman lain, seperti An Binh dan Susmitha Singh,’’ katanya.

‘’Oke,’’ jawabku.

Aku segera bergegas.Selang besar yang ada di dekat lubang tambang kugulung. Sementara Preechaya Pongtananikorn membersihkan mesin tambang yang berlumur lumpur hitam. Setelah selesai menggulung selang, aku membantu Pongtananikorn.

 

****

 

Manajer kami, Andrew Scott memberikan pinjaman mobil perusahaan untuk para pekerja tambang.  Ia seorang lelaki setengah baya yang sangat baik hati. Andrew sangat menyayangi grup kami.Sebab, orang-orang Asia yang menjadi bawahannya, menurut dia selalu baik dan sangat enak diajak kerjasama.

‘’Kalian boleh menggunakan mobil Ford terbaru ini.Jarak dari sini ke Weston West Virginia cukup jauh. Meski kondisi jalannya bagus dan lancar,  setidaknya dapat ditempuh sekitar dua jamlebih dari sini,’’ ujar Andrew memberikan kunci mobil itu ke Channarong.

Sebenarnya kami sudah setengah bulanlalu berencana ke Weston West. Selain datarannya luas, ada tanah lapang sebagai tempat orang memadu kasih. Orang-orang kulit putih yang berkunjung ke sana, biasanya baru menikah dua hingga tujuh hari.

Dan, sebagai tempat pelesiran, di Weston West ada rumah tua yang sudah ditinggal 30 tahun lebih oleh pemiliknya. Katanya, rumah itu berhantu. Meski ragu, aku kurang percaya terhadap mitos seperti itu.

Dalam perjalanan panjang yang melelahkan itu, suasana kami justru senang-senang saja. Jalan aspal yang lurus dan di kiri-kanannya terdapat hutan-hutan kecil yang menyejukkan, menawarkan suasana indah.Sedangkan suara margasatwayang bersahut-sahutan,bersenandung seperti musik klasik yang dilantunkan musikus ahli.

‘’Wah, kita sudah sampai,’’ kata Channarong.Benar kata Andrew Osborn tadi, selama dua jam lebih kami mengendarai mobil untuk tiba di Weston West. Kemudian Channarong memarkirkan kendaraan kami di sudut jalan dekat rumah tua itu.

Sejenak sebelum melangkah, kupandangi dalam-dalam kondisi rumah itu.Suasananya hitam dan kumuh.Ada perasaan seram meski aku tidak tahu ada apa dengan rumah itu. Namun semakin lama aku memandang, kami terjerat pada pesona rumah tua tersebut.

Di belakang rumah itu, terlihat pepohonan perdu liar yang begitu lebat. Bisa jadi, rumah ini telah ditinggal lebih dari 30 tahun. Teras depan yang terdiri dari panggung kayu sudah ada yang rusak di sana-sini. Tapi kayu penopang rumah itu terdiri dari kayu oak, sejenis kayu ulin Kalimantan yang begitu padat dan keras.

‘’Hei, Marno.Kau terlihat begitu dalam memandang rumah ini.Mengapa, apa di dalam dirimu ada keseraman melihat rumah ini?’’ tanyaPreechaya Pongtananikorn, menepuk pundakku.

Uh, aku tersadar.‘’Oh, tidak.Aku hanya terpana melihat desain dan corak rumah yang menurutku sedikit misteri dan menyeramkan,’’ jawabku.

Pongtananikorn terbahak mendengar itu. ‘’Kauini  banyak menonton film horor Amerika, sehingga ketika melihat rumah jenis ini, perasaanmu langsung melayang ke dunia misteri yang menyeramkan. Menurutku, sudah saatnya kita meninggalkan ketahayulan yang mendera masyarakat Asia,’’ tukasnya.

‘’Ah,  aku tidak seperti itu. Hanya saja, ketika melihat rumah ini yang tua dan ditinggal lama oleh pemiliknya, aku berpikir di sinilah tempat berkumpulnya rasa ketakutan seseorang,’’ kataku.

‘’Nah, itulah tahayul yang selalu menakut-nakuti jiwa seseorang. Sebagai manusia, rasa takut memang ada. Ini fitrah lahiriah.Tak ada manusia yang tidak memiliki rasa takut.Semua itu berkumpul bersama emosi kemanusiaan kita. Tapi maksudku, jangan sampai rasa takut itu muncul dan menguasai hanya karena melihat bentuk rumah yang terlihat menyeramkan ini. Tapi lihatlah  fisik rumah itu sebagai sesuatu yang bernilai estetika. Indah dan memberikan kecerdasan bagi kita.’’

Meski sulit, aku mencoba memahami apa yang dikatakan Pongtananikorn. Pemuda Thailand ini memiliki wawasan yang sangat baik untuk mencerna pokok pikiranku. Padahal di negerinya sendiri, bahasa tahayul dan keseraman yang melanda masyarakatnya, diungkap melalui film-film horor versi orang Thailand.

‘’Kuakui, di negeri kami sendiri, perasaan takut selalu muncul hanya karena tradisi tahayul yang mewarnai kehidupan kami sehari-hari. Setiap ada hal ganjil dan menyimpang dari tataran fakta dan pola pikir, muncullah di dalam pikiran orang Thailand sebagai wujud ‘hantu’ yang melahirkan rasa takut. Padahal, ketika seseorang berada dalam situasi prima, tak ada hal-hal menakutkanyang perlu ditakuti,’’ ujar Pongtananikorn.

‘’Sulit sekali, bung. Sangat sulit bagiku untuk memisahkan antara realita fakta hidup dengan realitas imajinasi yang menakutkan.Sebab, karena rasa takutlah kelabilan jiwa manusia itu terombang-ambing dalam  situasi yang menakutkan. Entah, aku sendiri bingung.Apakah realita seperti ini bentuk ketahayulan yang kau sebut sebagai tradisi masyarakat Asia.Aku tak mampu merumuskan nilai ketakutan yang bersumber dari ketahayulan itu,’’ kataku.

 

****

 

Xiao Jun kerap kali berdecak kagum melihat rumah tua itu. Sebab, sebelum kami pergi dari situ, ia mengajak kawan-kawan untuk melihat langsung ke dalam. Meski sudah dikatakan masyarakat setempat bahwa rumah itu sangat misterius dan berhantu, tapi Xiao Jun tetap nekat mengajak kami masuk ke dalamnya.

‘’Aku sangat yakin, di dunia ini tidak ada hantu.Yang ada hanya ketakutan yang menggerogoti jiwa manusia, sehingga muncullah bayangan-bayangan seramberupa wujud menakutkan yang terpancar dari penglihatan mata manusia,’’ katanya berkukuh.

‘’Tapi bagaimana rasa takut yang mewujud itu membuat manusia kesurupan?‘’ tanyaku.

‘’Wuih, kalau menurut saya, kondisi surup yang melanda seseorang, bukan karena sosok mahluk halus yang merasuk ke dalam diri manusia. Tapi keadaan itu tercipta karena rasa takut yang besar telah menyerang jiwa seseorang ketika ia berada dalam kondisi minus,’’ jawab Xiao Jun.

‘’Dalam kondisi minus apa, maksudmu?’’

Xiao Jun tertawa.Ia memandang wajahku dalam-dalam. Entah, apakah dia tengah mengejek secara diam-diam atas ketidaktahuanku itu.Matanya yang sipit ketika tertawa tampak seperti garis saja.

‘’Kau tahukan, di dalam diri manusia itu ada rasa takut dan perasaan berani. Nah, antara perimbangan ketakutan yang begitu besarakan membuat nilai keberanian kita berada di bawah standar. Akibatnya, muncul bayangan-bayangan seram yang ‘membunuh’ keberanian kita itu.  Kondisi inilah yang kerap kali menyerang jiwa seseorang yang lemah, sehingga setiap kali melihat hal-hal menyeramkan, seolah di balik keseraman itu ada hantunya. Karena rasa takut yang sangat besar itulah, akhirnya membangun ketidaksadaran yang menyebabkan seseorang menjadi kesurupan,’’ kata Xiao Jun.

‘’Lantas bagaimana dengan masyarakat di China sendiri?’’ aku bertanya.

‘’Di Asia ini hampir sama. Percaya adanya hantu.Percaya sebab akibat yang menyerang keyakinan seseorang.Dan, percaya apabila di suatu tempat yang dikeramatkan ada sesuatu yang menakutkan kita. Ini sebetulnya, sama dengan apa yang dikatakan Preechaya Pongtananikorn bahwa masyarakat Asia itu yakin dengan ketahayulan hidup sehari-harinya,’’ lanjut Xiao Jun.

‘’Lantas?’’

‘’Akibat belenggu ketahayulan itulah kita selalu berpikir ke hal yang menakutkan, ketika melihat masalah aneh secara mistis.Di China pun begitu. Ketika ada orang mati yang keadaannya menakutkan, pastilah di pikiran mereka bahwa si mati akan datang menghantui siapa saja yang melihatnya,’’ ujar Xiao Jun, tersenyum.

Dia mengibaratkan soal rumah menyeramkan yang akan mereka masuki. Karena orang-orang di sekitar rumah itu mengatakan ada hantunya, Xiao Jun pun penasaran.Pemuda China ini ingin mengetahui apakah pernyataan orang-orang itu benar bahwa rumah yang ditinggal pemiliknya 30 tahun lalu ada hantunya?

‘’Ayo teman-teman, kita masuk. Ah, selain hanya gelap dan apek karena sudah lama ditinggal pemiliknya, tak usah takut, tidak ada apa-apanya. Kalau ada hantu, kita berenam ini dapat mengatasinyasecara bersama-sama. Ayo, kita masuk,’’ ajak Xiao Jun.

Melihat optimisme Xiao Jun, aku hanya menggeleng. Kami langsung menyerbu ke dalam secara berbarengan.Dari pintu depan adaengselnyayanglepas. Ketika dibuka, bunyinyaberkrekek. Tiba di ruang tamu, kami masih terlihat sisa kursi lama yang porak poranda. Selintas kami mencium aroma tak sedap.‘’Ih, seramnya suasana di dalam,’’aku berbisik dalam hati.

Kami jalan secara perlahan dan hati-hati.Aku dan Pongtananikorn berjalan berdampingan. Dari tangga yang mengarah ke lantai dua, banyak berceceran kain-kain bekas dan baju butut yang tak terpakai.  Sementara di ruang dapur, masih terlihat peralatan yang keadaannya sudah afkir dan berantakan.

Kami segara masuk ke ruang keluarga.Meski tak lengkap, masih terlihat seperangkat kursi usang yang bergeletakan di sana. Mataku mengarah ke kamar tidur keluarga. Aku dan Xiao Jun masuk ke sana. Kami agak kaget karena ada peti besar di bawah ranjang reyot yang dilingkari sarang laba-laba.

‘’Wuih, peti apa ini Xiao Jun?’’ tanyaku.

‘’Wah, aku juga tidak tahu.Yok, kita buka. Barangkali ada barang berharga yang ditinggalkan pemiliknya,’’ ujar Xiao Jun, tertawa.

‘’Ah, tidak mungkin.Bisa jadi barang usang yang tak sempat dibawa saat pemilik rumah ini meninggakan tempat tinggalnya,’’ kataku.

Teman-teman penasaran, ada apa di dalam peti itu? Kemudian lampu senter yang dibawa An Binh diarahkan ke peti itu.Pongtananikorn mencabut pisau bayonet yang terselip di pinggangnya. Iamulai menyongkel tutupnya. An Binh segera mendekatkan senter yang menyorot tajam ke titik kayu yang dibongkar secara perlahan itu. Setelah titik paku mulai terangkat, dari dalam terlihat onggokan kerangka manusia yang berdebu, sehingga warnanya kehitam-hitaman.Kami kaget setengah mati.Tanpa sengaja, aku, An Binh dan Channarong terloncat dari sana.

 

****

Suasana mulai tegang.Kami saling pandang merasakan hal-hal mistis begitu. Secara bersama, kami ngumpul di pojok kanan di dekat tungku perapian. Wajah Channarong terlihat pucat di antara remang-remang bias cahaya matahari.Atap rumah yang bolong memberi pertolongan kami untuk dapat melihat suasana sekitar ruangan.

Saya yakin, suasana tahayul seperti yang dikatakan Xiao Jun dan Channarong mulai menyergap perasaan kami semua. Tiba-tiba rumah itu bergetar. Dari satu titik, angin kencang datangdengan polaberputar, seolah ada beban tekanan angin puyuhyang bergemuruh.

Kami berpegangandi dinding perapian yang kokoh. Putaran angin semakin kencangmenitik ke dalam peti yang berkelotakan.Semua sisa perabotdan debu di ruangan itu beterbangan mengumpul jadi satu masuk ke dalam peti.Aneh, aneh sekali.Kecuali kami, semua yang ada di ruangan beterbangan mengumpul dalam arus putaran angin yang mengantarkan semuanya ke peti itu.

Mulai dari papan, potongan bebatuan yang keropos serta semua alat afkir yang ada, bersih dan masuk ke peti itu. Sementara kami merasa tak karuan.Kami seolah berada di alam lain yang menakutkan. Gelap dan pekat sekali.Kami terpekik di dalam pusaran angin yang begitu kencang. Untunglah, dengan sisa tenaga yang ada, kami saling paut untuk mempertahankan diri agar tak terjerumus ke ruang peti mati itu.

Dari deru angin, kami mendengar suara terkekeh. Ritme suaranya seperti seorang kakek dan nenek. Dari suaranya kami mendengar kata-kata,’’ Inilah balasan bagi mereka yang tidak percaya adanya alam akhirat.Kami datang ke rumah ini untuk menyambut kalian yang telahseenaknya menyingkirkan masalah ketakutan dan ketahayulan,’’ ujarnya sembari mempertegas gelak tawanya sehingga membuat bulu roma kami berdiri.

Lebih dari dua puluh menit pusaran angin itu berseliweran.Setelah itu berhenti.Aneh, semua bahan-bahan rumah tua yang berdiri kokoh itu habis masuk ke peti mati tersebut.Kembali kami saling pandang.Aku melihat jam tanganku, hari sudah menunjuk ke angka 3.00 fajar, waktu setempat. ‘’Subhanallah,’’ ujarku terucap begitu saja.

Kami berdiri di atas sisi rumah yang sudah tandas tak bersisa.Selain lantai, tak terlihat lagi adanya tiang dan sejumlah perangkat rumah. An Binh mencari-cari senter yang ia pegang tadi. Tapi tidak ada. Ia heran, senter itu pasti telah dilalap peti mati tersebut. Aku melirik ke arah peti mati yang ada di sudut kananku, tapi sudah tak berbekas lagi. Di antara batang, pepohonan dan rerumputan yang ada, mobil kami masih di tempatnya.

Dalam suasana yang tidak pasti, terdengar deru kendaraan yang datang. Seorang Sheriffdan stafnya turun dari kendaraan dinasnya. Meski sudah berumur, tapi cara berjalan ia masih terlihat gagah.  ‘’Selamat pagi,’’ sapa Sheriffitu, ramah.Ia dan stafnya mendatangi kami.

‘’Selamat pagi, pak,’’ jawab kami hampir berbarengan.

‘’Saya John McKenley, sheriff yang bertugas di wilayah ini.Dan, ini staf saya, Catherine Capozzi,’’ katanya mengkenalkan diri. Kami pun mengenalkan diri dan apa pekerjaan kami sehari-hari.

‘’Mengapa kalian ada di sini?’’ tanyanya.

‘’Kamisengaja berlibur ke sini, setelah lebih dari setengah bulan merencanakannya.Kami dengar wilayah Weston West ini sangat indah untuk dikunjungi.Makanya dari Weston West, kami datang ke sini, pak,’’ ujar Xiao Jun.

‘’Wuih, jauh juga perjalanan anda,’’ kata John McKenly.Ia mengambil rokok dari kantongnya dan menawarkan kami. Aku dan kawan-kawan menggeleng.Ia mengambil sebatang dan menyulutnya dengankorek api. Sementara Catherine meletakkan senjata laras panjang yang ia bawa.

McKenley mengatakan, kedatangannya karena ada laporan warga yang mendengar jeritan orang ramai di sini. Makanya ia dan stafnya segera ke sini. Tak lama di antaranya datang sejumlah orang yang tinggal di sekitar bekas rumah tua.

‘’Dulu, di sini memang ada rumah tua.Tapi sudah dua tahun terakhir rumah itu ambruk sendiri karena sudah 30 tahun ditinggal pemiliknya.Kami di sini heran, kok rumah sebagus itu ditinggal begitu saja? Makanya masyarakat dan Sheriff McKenley merobohklan rumah ini.

Mendengar itu, aku segera menceritakan yang kami alami. Bagaimana deru angin yang berputar dan merobohkan rumah ini.‘’Semua itu masuk ke peti mati yang ada onggokan tengkoraknya.Tapi setelah persoalannya selesai, peti itu hilang dari tempatnya,’’ ujarku.

Sheriff dan orang-orang yang ada di sekitar itu hanya tersenyum. ‘’Yah, semua orang yang datang ke sini mengalami hal serupa. Dulu, 30 tahun lalu, di rumah ini terjadi pembunuhan terhadap seluruh keluarga rumah ini. Katanya, kepala keluarga rumah ini namanya, Berry Osborn.Dia diserang segerombolan perampok yang menyatroni rumahnya.Osborn sekeluarga dibantai dan dikubur dalam peti yang kalian lihat itu.Sedangkan harta Osborn digondol mereka,’’ ujar McKenley.

Aku tercenung. Apa yang dikatakan Xiao Jun dan CHannarong tentang ketahayulan masyarakat, kadang-kadang benar adanya. Tapi sebagian orang, mati-matian menentang prinsif keyakinan hal yang tidak masuk akal tersebut. Semua itu terjadi karena dari kecil mereka hidup dalam suasana rasional yang menapikkan masalah ketahayulan.

Tapi bagi orang Amerika sendiri,mereka yakin setelah kami mengalami hal-hal yang tak rasional. Itu artinya, meski hidup dalam kalangan orang-orang rasional, apabila tidak percaya, jangan menapikkan ketahayulan yang sudah lama berkembang dalam kehidupan manusia. Sekali kita menapikkan persoalan ketahyulan, maka akan diperlihatkan oleh-Nya bahwa ada alam lain yang kita sendiri tidak mengerti untuk memahami semua itu. (*)

 

18 Maret 2017

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.