Hasan Kurap

Cerpen Anto Narasoma

Kopral Hardiman terpaksa harus kabur setelah ikut membantu rekan dari kesatuannya yang dikeroyok preman kampung. Tiga hari lalu, pelipis kanan Kopral Mamad, rekan selettingnya,  terluka setelah disabet preman Pasar Kentut dengan samurai panjang.

Akibat sabetan tersebut, pelipis Mamad menganga sepanjang 12 sentimeter. Darahnya mengucur deras membaluri hampir seluruh wajahnya, sehingga teman Hardiman yang terluka cukup parah itu terjatuh di dekat bak sampah warga Kelurahan Gebok.

Melihat rekannya teluka cukup parah, perasaan Hardiman panas bukan main. Perasaan marahnya mendidih. Gejolak kemarahannya itu ia lampiaskan untuk melawan sang preman.

Ia mencoba melawan preman tersebut dengan sepotong bambu yang kebetulan ia temukan di dekat pagar bak sampah. Dengan keterampilan seorang prajurit yang terdidik dalam teknik beladiri, Hardiman mengayunkan potongan bambu itu ke tubuh sang preman.

Preman yang dikenal dengan sebutan Hasan Kurap itu tergelimpang di tanah becek. Golok di tangannya terlepas setelah Hardiman mengarahkan beberapa pukulan karatenya ke sekujur tubuh preman tersebut.

Menyaksikan Hasan Kurap berada pada posisi yang berbahaya, seabrek teman-temannya menyerbu dua anggota tentara yang berpakaian bebas tersebut. Dengan dibantu preman pasar lainnya, keadaan Hardiman dan Kopral Mamad sangat genting.

Melihat orang-orang menyerbu ke arahnya, Hardiman terpaksa harus kabur untuk menyelamatkan diri. Sebab, dalam kedaan seperti itu, nyawanya akan menjadi pertaruhan yang sangat mahal.

Tanpa berpikir panjang, Hardiman langsung kabur tanpa ada kesempatan untuk menggotong temannya yang terluka parah. Hatinya pedih sekali. Entah bagaimana nasib Kopral Mamad setelah ia kabur dari tempat itu.

Namun sebelum lari terlalu jauh, selintas Hardiman sempat melihat ke posisi Kopral Mamad yang terpekik setelah dihujani berkali-kali bacokan senjata tajam orang-orang yang mengerubunginya. Masya Allah!

 

****

 

Setelah mendapat sekian puluh bacokan dan gebukan benda tumpul, Kopral Mamad pun tewas di tempat kejadian. Sekujur tubuh anggota tentara itu layaknya daging cincang banjir darah segar.

Hasan Kurap dan konco-konconya sadar, musuh yang mereka bantai itu sudah tewas. Sebelum polisi datang, Hasan Kurap segera menginstruksikan teman-temannya untuk minggat dari tempat itu. Sebelum kabur, mereka sempat membakar motor Hardiman yang diparkir di muara lorong Pasar Kentut.

Suasana pun gempar. Menyaksikan peristiwa maut tersebut, para pedagang yang pagi itu sudah membuka kiosnya terpaksa tutup kembali. Mereka enggan menjadi saksi atas peristiwa pembunuhan itu.

Selain hanya tubuh Mamad tergeletak di tanah becek yang dibanjiri darah segar, suasana tempat kejadian perkara (TKP) pun secara sontak menjadi sepi.

Kopral Hardiman sedih bukan main. Sepeninggal dari tempat perkara, emosinya makin merajalela. Kobaran api kemarahannya yang sejak awal peristiwa sudah berkecamuk di dadanya, kian membara.

Terutama ketika mengingat kondisi Kopral Mamad yang dibantai secara beramai-ramai oleh kumpulan preman pimpinan Hasan Kurap, wuih, hatinya panas bukan main. Hardiman yakin sekali, setelah dibantai musuh dengan sabetan berbagai senjata tajam, rekan satu kesatuannya itu pasti tewas.

“Aku yakin sekali, Mamad pasti tewas,” tukas Hardiman seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Membayangkan itu, ia sedih sekali. Hatinya panas bukan main. Airmatanya mengucur deras.

Ingin rasanya kembali ke tempat kejadian perkara untuk membalas kematian teman terbaiknya itu. Tapi  situasinya sangat berbahaya dan tak mungkin dapat ia lakukan. Kalau nekat, bisa jadi, keduanya akan binasa dibantai Hasan Kurap dan kelompoknya.

“Aku harus membalasnya. Aku akan memberitahukan peristiwa ini ke rekan-rekan di kesatuan, sekaligus untuk menyerang balik atas kekejian yang dilakukan Hasan Kurap dan kelompoknya,” tukas Hardiman seolah berbicara dengan dirinya sendiri.

Sebagai prajurit perasaannya harus kuat. Namun Hardiman harus mencari solusi yang tepat untuk membalasakan dendam Kopral Mamad. Akhirnya, seperti dikejar setan, Hardiman segera menjumpai rekan sesama prajurit yang saat itu sedang piket di kesatuannya.

Kepada Kopral Soleh ia ceritakan perihal kejadian yang ia alami di Pasar Kentut. Mendengar itu, Soleh kaget setengah mati. Perasaannya mendidih ketika dikabarkan bahwa Kopral Mamad tewas dikeroyok preman Pasar Kentut.  Ia segera menginformasikan masalah itu ke semua rekannya melalui “radio panggil”.

 

****

 

Hari ketiga sejak terbunuhnya Kopral Mamad, suasana jual-beli di Pasar Kentut sudah berjalan seperti biasa. Namun Hasan Kurap dan konco-konconya yang biasanya terlihat wira-wiri di seputar pasar untuk minta “uang pajak” kepada para pedagang, tak tampak batang hidungnya.  Hanya ada seorang anak buahnya yang ditugaskan Hasan Kurap untuk menagih “jatah pajak” ke para pedagang. Untuk sementara ia tidak berani menampakkan diri secara terang-terangan. Bahkan, sejak kejadian, sosok Hasan masih ngumpet di persembunyian.

“Ayo, mana jatah Kak Hasan,” kata anak buah Hasan Kurap dengan mimik wajah angker. Matanya merah dam wajahnya yang hitam terlihat seram. Sedangkan di sekujur lengannya terdapat tato kalajengking yang melingkar. Ia berjalan sempoyongan akibat pengaruh alkohol.

“Sebentar lagi, kak. Dagangan saya belum ada yang terjual,” ujar pedagang panci dan alat-alat dapur.

“Aku tidak mau tahu. Pokoknya aku minta uang pajak untuk jatah Kak Hasan. Kalu dak ngenjuk, palak kau gek kukocek (kalau tidak memberi uang, kepalamu nanti kukuliti),” begitulah ulah anak buah Hasan yang mencoba menggertak pedagang kecil seperti pedagang alat-alat dapur itu.

“Kasihani saya, Kak. Saya tidak bohong. Satu pun dagangan saya, memang belum ada yang terjual. Sebentar lagi, kalau sudah ada masukan uang, pasti saya berikan. Percayalah, Kak,” tukas pedagang itu dengan suara memelas.

Tanpa banyak bicara tiba-tiba, plak. Wajah pedagang alat-alat dapur itu digampar sang preman. Dari bibirnya keluar darah. Karena memiliki tubuh kecil dan kurus kering, pedagang itu terjatuh ke tanah berlumpur hitam.

“Ampun, kak. Saya memang belum ada masukan uang. Coba lihat dompet saya ini. Isinya cuma kertas faktur pembelian barang,” tukas pedagang itu dengan suara bergetar. Nyalinya ciut setelah preman berwajah seram ini menggampar wajahnya.

Kalu idak ngenjuk, kubabas bingkaske jualanan kauni (kalau tidak memberi, dagangan kau ini akan saya hancurkan),” ancam sang preman seraya mengambil bambu pikulan pedagang tape yang ada di sebelahnya. Di saat kayu pikulan itu akan diayunkan ke tubuh pedagang, seseorang segera mencekal kuat bambu pikulan tersebut sehingga sang preman tak mampu menghantamkannya ke tubuh si pedagang.

“Kurang ajar, siapa kau, hah? Berani sekali ikut campur masalah kami?” sang preman berpaling ke arah orang yang telah lancang menghalanginya memberi pelajaran ke pedagang alat-alat dapur tersebut.

“Kamu ini bukan manusia. Sikapmu itu tak lebih dari perilaku binatang yang selalu menindas orang tak berdaya,” hardik sang penolong. Penolong yang berambut cepak dan berbadan tegap segera memukul wajah si preman.

Si preman terjajar ke tanah becek. Tanpa sempat berteriak, pukulan dan ijakan sepatu lars berkali-kali menerpa tubuh preman tersebut. Selain itu, hantaman bambu pikulan tape pun bertubi-tubi menerpa tubuh si preman. Setelah berkelojotan, akhirnya diam tak berkutik.

Dari berbagai penjuru lorong, laki-laki berbadan tegap dan berambut cepak pun menyebar ke berbagai sudut Pasar Kentut. Para pedagang dan orang-orang yang berbelanja di pasar itu terlihat ketakutan. Mereka terburu-buru menghindarkan diri dari situasi gaduh.

Ada beberapa orang yang berpotongan seram dengan tubuh penuh tato, menjadi korban serbuan laki-laki muda berambut cepak yang bergerak gesit ke sana-sini. Sebuah pos penjagaan yang diduga milik sekumpulan jagoan pasar, dibakar para penyerbu.

Setelah api membesar dan suasana pasar porak-poranda, kelompok pendatang yang menyebarkan prahara di Pasar Kentut itu secepatnya menghilang dari tempat kejadian. Setelah mendapat laporan warga, satu truk anggota polisi yang bersenjata lengkap tiba di tempat kejadian.

 

****

 

Dari berita koran terbitan pagi itu diinformasikan, akibat serangan sekelompok laki-laki muda berambut cepak di Pasar Kentut telah mengakibatkan satu pos penjagaan milik organisasi masyarakat dibakar habis.

Sedangkan tiga los pedagang yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul para preman dibakar dan dihancurkan para penyerang. Bahkan, dalam peristiwa itu pihak kepolisian mendapati sepuluh preman tewas, termasuk Hasan Kurap yang jasadnya dibuang di bak sampah Pasar Kentut.

Sejak kejadian itu masyarakat bertanya-tanya, apakah sekelompok orang muda yang gesit dan terdidik dalam strategi penyerangan itu adalah personal tentara dari satu kesatuan? Apalagi masyarakat mengait-ngaitkan masalahnya dengan terbunuhnya seorang anggota tentara di gugusan los ikan asin Pasar Kentut, tiga hari lalu.

“Kalau sudah seperti ini, yang rugi kalian sendiri,” tukas Paklek Parwoto, seorang pensiunan tentara berpangkat mayor yang pernah memimpin penyerangan dalam peristiwa ‘perang lima hari lima malam’ melawan penjajah Belanda.

Meski sepuh (tua), Paklek Parwoto memiliki perawakan kokoh, sehat dan sangat berwibawa. Rambutnya yang panjang sebahu disertai berewok berwarna keperakan itu menambah kegagahannya sebagai mantan tentara di masa perjuangan.

Sayangnya, ia tak punya anak dan tinggal sendirian di rumah gubuknya yang sederhana di sebuah desa terpencil. Sedangkan istri tercintanya sudah meninggal setahun lalu, setelah empat dasa warsa hidup bersamanya dalam suasana susah dan senang.

Sembari memberi makan ratusan itik di peternakan belakang rumahnya, Paklek terlihat marah. Sementara Kopral Hardiman yang sudah sejak dua hari lalu buron dan tinggal di rumahnya itu tak banyak bicara saat orang tua itu mengomelinya dalam bahasa Jawa yang kental.

“Perlu sampeyan sadari bahwa seorang prajurit itu harus mengenal jati dirinya secara utuh, terutama setelah ia berkecimpung di satu kesatuan tempat ia menempa dirinya sebagai tentara,” ujar Paklek.

“Maksud Paklek?” tanya Hardiman seperti pertanyaan anak Te-Ka.

“Ya, sampeyan itu dididik di ketentaraan bukan dibentuk untuk menjadi robot perang yang tak punya perasaan. Sampeyan itu seorang tentara yang batang tubuhnya dibalut tulang dan daging yang memiliki jiwa. Sampayen itu dididik dalam kerangka akademik yang mengajarkan tentang perilaku kebaikan dan kebajikan. Sampayen itu dibentuk untuk melindungi rakyat dan negara. Maka itu sampeyan diwujudkan sebagai manusia ksatria agar tidak takut menghadapi pertempuran. Iya ndak?”

“Iya, Paklek.”

“Nah, kalau keberanian itu disalahgunakan untuk memberangus rakyatmu sendiri, sama halnya sampeyan sudah menghianati diri sampeyan sendiri sebagai bentukan ksatria pelindung rakyat,” cetus Paklek Parwoto dengan nada tinggi. Lelaki tua itu menyibak rambutnya yang panjang dan nyaris tak sehelai pun ada yang hitam.

“Jadi saya harus bagaimana, Paklek?” tanya Hardiman.

Paklek Parwato memandang tajam wajah Hardiman. Orang tua itu meletakkan panci wadah pakan itiknya ke bangku panjang di bawah pohon waru belakang rumahnya.

“Sampeyan itu sudah melakukan kesalahan besar. Sudah menciptakan huru-hara di pasar yang membuat orang-orang tidak bersalah menjadi ketakutan.”

“Tapi salahkah saya membela teman dan eksistensi kesatuan tempat saja bertugas, Paklek?”

“Tidak salah. Tapi menurut saya, sampeyan itu sudah menjadi korban sentimen korp yang berlebihan, sehingga tak tahu lagi posisimu sebagai tentara atau rakyat biasa ketika terjadi pertikaian itu,” tukas Paklek Parwoto.

Kopral Hardiman terdiam. Ia mencoba memahami apa yang diucapkan orangtua tersebut. Sebab, apa yang dikemukakan mantan perwira menengah itu benar-benar membuatnya seperti orang bodoh.

Sampeyan tahu ndak, tentara boleh berkelahi di arena pertempuran. Di sanalah segenap keterampilan dan keberanian seorang prajurit dipertaruhkan untuk membela kedaulatan rakyat dan negaranya. Itupun harus dilakukan dengan strategi tanpa melanggar hak azasi  musuh. Sebab, di balik baju hijau yang dikenakan tentara musuh, ada tulang-belulang yang dibungkus daging seorang manusia,” katanya.

“Lantas?”

“Ya, sebelum berperang, seorang tentara harus berani bertempur melawan dirinya sendiri, sehingga rasa kemanusiaan yang ada di dalam diri sampeyan itu dapat menjadi nasihat sejati untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain,” ujar Paklek.

Hardiman hanya menganggukkan kepala,  seolah ia benar-benar memahami sebuah nilai di balik apa yang dikemukakan Paklek Parwoto.

“Untuk sampeyan renungi ialah, seorang tentara sejati harus mampu memerangi kemarahan dirinya sendiri sebagai bentuk pertempuran sesungguhnya setelah ia berperang melawan musuh di medan pertempuran. Ingat itu.” (*)

 

Palembang, 19 Juni 2013

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.