HELENA MARQUISSA

Cerpen Anto Narasoma

SUDAH tiga pekan Aldien tak pulang ke rumahnya. Istrinya yang sedang hamil enam bulan cemas bukan main. Sejak mereka menikah, suami yang ia cintai itu tak pernah memperlihatkan sikap manis sebagai lelaki yang bertanggung jawab. Tapi Helena Marquissa tetap memperlihatkan kecintaan terhadap suaminya, karena Aldienlah lelaki yang ia pilih sebagai suami

Namun Helena kerap kali menangis di rumah kontrakannya. Terutama ketika ia mengingat kepergian Aldien. Dalam keadaan hamil tua, Helena harus berpikir keras untuk mengatasi kesulitan hidup yang ia alami. Ah, dimana kau Bang Aldien?

Sejak 180 hari kepergian suaminya, tak sepatah kabarpun yang Helena terima. Ia sudah meminta agar teman-teman dan kenalannya dapat membantu mencari tahu keberadan suaminya, namun hingga kini belum ada informasi terkait kabar Aldien. Wuih, perasaan yang dirasa Helena benar-benar berat. Namun wanita cantik berdarah Jerman itu tetap tabah menghadapi suasana sulit ini.

Helena masih ingat sebelum Aldien pergi, ia berkata ingin bisnis dengan seseorang teman. Karena itu Helena memberi modal untuk usaha suaminya. Uang untuk modal yang diberikan ke Aldien merupakan hasil tabungan yang dikumpulkannya selama dua tahun. Tadinya uang itu dicadangkan untuk membiayai persalinannya.

Memang tidak banyak. Tapi untuk membiayai modal dagangan, uang tabungan itu cukup untuk berjualan kecil-kecilan. Justru setelah menerima modal dari istrinya beberapa waktu lalu, Aldien menghilang tak ada kabar beritanya.

‘’Nak Helen,  bapak minta agar kau selalu tabah menghadapi cobaan ini, ya? Mungkin Nak Aldien sedang sibuk berdagang untuk mempersiapkan masa depan rumah tangga kalian,’’ ujar Pak Muchlas, tetangga sebelahnya yang berjualan tape.

Pak Muchlas merupakan tetangga yang baru sebulan ditinggal mati istrinya. Selain berjualan tape, Pak Muchlas pandai memainkan instrumen musik biola. Jika ia menggesek dawai biolanya, alunan nada yang ia pancarkan sangat merdu dan mengingatkan seseorang kepada pebiola Indonesia yang sangat fenomenal, Idris Sardi.

Helena tak menjawab. Airmatanya yang sejak tadi ia tahan agar tidak mengucuri pipinya, akhirnya bobol juga. Ia sesegukan ditekan perasaannya yang begitu kuat.

‘’Siapapun, setiap makhluk hidup, terutama manusia, pasti mendapat ujian. Bahkan ujian ini merupakan takaran untuk menguji keikhlasan seseorang ketika melakukan sesuatu,’’ kata Pak Muchlas, berfilsafah.

Orang tua ini memperbaiki posisi duduknya di bangku panjang bedeng kontrakan, di depan tempat tinggal Helena. Pak Muchlas sengaja membiarkan suasana menjadi reda, agar emosi kesedihan wanita muda ini tak mengganjal lagi di hatinya.

Pak Muchlas melinting tembakau ‘’zig-zig tobacco’’ untuk dijadian rokok. Kemudian ia menyulut rokok lintingan itu dan mengisapnya dalam-dalam. Ah.., betapa nikmatnya. Kemudian Pak Muchlas berkata,‘’Banyak faktor yang membuat Nak Aldien bersikap seperti itu. Pada dasarnya, ia masih terlalu muda untuk menghadapi setumpuk kesulitan hidup. Karena dia belum berpengalaman, akibatnya kontrol psikologisnya bubar. Makanya ia menghilang dan tak memberi kabar beritanya sama sekali. Tapi bapak yakin, ia akan kembali lagi ke sini. Tak usah khawatir, untuk sementara waktu, biar bapak membantu Nak Helena. Anggap saja bapak ini sebagai orangtuamu sendiri, ya?’’

 

****

 

Keringat Helena keluar sebesar butiran jagung. Perutnya sakit bukan main.  Sejak tadi ia menekan posisi bayinya dengan segenap tenaga yang ada. ‘’Ayo bu, tekan lagi. Ya, bagus,’’ ujar dokter rumah sakit daerah yang menolong persalinan Helena.

Karena merasa sudah tak memiliki daya lagi, tim medis yang menolong persalinan segera memberi suntikan tenaga. Akhirnya bayi Helena yang ditunggu-tunggu itu menangis keras.

‘’Alhamdulillah. Anak ibu laki-laki. Kulitnya putih, sehat, hidung mancung  dan tampan. Bersyukurlah, Bu,’’ ujar dokter tersenyum.

Helena tersenyum. Airmatanya mengurai. Hatinya sedih sekali karena disaat ia melahirkan anak pertamanya, Aldien yang ia cintai itu tak ada di sisinya. Kalau selama ini ia masih menanamkan kesabaran sebagai seorang istri dan wanita yang kuat, tapi segala yang ia pertahankan itu akhirnya sirna. Helena marah bukan main. Sebab sejak usia kehamilannya berusia tiga bulan, ia ditinggal pergi Aldien tanpa cerita dan kabar apapun. Wuih sakitnya bukan.

‘’Pak Dokter, bisakah anda menolong saya?’’ tukas Helena.

‘’Apa yang dapat saya lakukan, Bu?’’

‘’Tolong azankan anak saya.’’

Dokter itu mengerinyitkan alisnya. ‘’Apakah keluarga Ibu tidak ada yang hadir dalam persalinan ini?’’ tanya dokter.

‘’Tidak ada dokter. Suami saya saat ini sedang bekerja di luar kota. Kami merantau di kota ini. Jadi tidak ada seorang pun sanak famili saya. Tolonglah saya, Pak,’’ pinta Helena.

Dokter berusia setengah baya segera membawa bayi itu ke ruang sebelahnya. Dari balik tirai putih Helena mendengar suara dokter itu melantunkan azan. Mendengar itu Helena menangis.

Padahal disepanjang menghadapi masa-masa gawat ketika bersalin tadi, Helena mencoba memperkuat  batinnya. Tapi setelah mendengar suara dokter itu mengazankan anaknya, Helena benar-benar jatuh ke jurang kesedihan yang teramat dalam.

‘’Ibu, mengapa anda menangis? Apakah anda kecewa mendengar saya mengazankan anakmu? Kalau begitu, saya mohon maaf,’’ ujar dokter itu menyerahkan anaknya ke dua perawat wanita yang sejak tadi membantu persalinan tersebut.

Helena tidak menjawab. Wanita bermental baja ini mempunyai watak keras. Ketika menghadapi kesulitan apapun ia tetap tegar dan tak pernah mengeluarkan air mata. Tapi ketika dokter itu mengumandangkan azan untuk bayinya, setumpuk perasaan yang telah lama mengendap di hatinya itu meluap membobolkan pertahannya sebagai wanita tangguh. Ia menangis habis-habisan.

Ternyata dokter dapat menangkap apa yang dirasakan Helena. Ia biarkan wanita muda ini menangis di tempat tidurnya. Saat itulah Helena menghancurkan segala kenangannya dengan suaminya, Aldien. Laki-laki yang ia cintai dengan sepenuh hatinya itu tega meninggalkannya dalam suasana yang sangat menyakitkan.

Padahal, sehari sebelum Aldien pergi, suaminya itu mengatakan akan berjualan kecil-kecilan apa saja. Biarlah memperoleh untung kecil tapi halal. Sebesar apapun ketungannya, akan ia bawa pulang untuk membesarkan keluarganya. Aldien ingin membangun keluarganya dengan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya. Setelah pergi, faktanya jauh dari angan-angan indah Helena.

Wajah Helena tegang. Dari rona wajahnya terlihat kekecewaan yang dalam. Aku tak takkan meminta belas kasihan kepada siapapun. Inilah risiko berkeluarga. Pahit getirnya kehidupan ini  harus disikapi dengan strategi yang tepat dengan kekerasan sikap untuk mencari peluang terbaik, begitu tekad di hati Helena.

 

****

 

Sejak dibantu Mahram Zaidan, kehidupan dan keuangan rumah tangga Helena semakin membaik. Usaha konveksi yang dibukanya di areal seluas satu hektare itu semakin berkembang. Mahram adalah pengusaha celana denim yang sukses. Ia  mengenal Helena ketika ada rapat perusahaan di Palembang. Karena cantik dan bemodalkan tubuh aduhai, Helena diminta perusahaan untuk menjadi model, mengenalkan celana dan baju denim terbaru yang langsung menjadi trend terbaru.

Sejak itulah nama Helena menjadi buat bibir di lingkungan pengusaha konveksi nasional. Meskipun terdapat sejumlah modeling terkenal, tapi banyak perusahaan yang ingin memakai jasa Helena untuk mempromosikan produk mereka. Saat itulah keadaan nasib Helena berubah total. Tapi dalam sikapnya yang selalu sederhana, Helena tetap disukai tetangganya. Karena ia tidak sombong dan tinggi hati. Sikap inilah yang disukai Mahram.

‘’Hel, malam ini kita diajak sejumlah pengusaha konveksi dari Belgia  minum dan makan di Union Bar. Kau siap?’’ tanya Mahram Zaidan, pengusaha tampan keturunan Mesir ini,  tersenyum.

‘’Oke, saya siap. Tapi kita harus memiliki strategi untuk menggaet sejumlah proyek sehingga usaha konveksi kita akan mendapat sejumlah order. Ini yang menguntungkan kita, Mas,’’ jawab Helena, tertawa. Giginya yang putih dan rata teratur itu menambahkan kecantikannya.

Mahram Zaidan terpana melihat raut wajah Helena. Di dalam hatinya ada rasa suka terhadap wanita muda ini. Apakah Mahram jatuh cinta kepada Helena? Meskipun begitu Helena tak acuh terhadap sikap rekan bisnisnya ini. Meskipun barangkali ada keinginan untuk bersetubuh, tapi Helena mencoba tetap profesional. Ia tidak ingin hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan bisnisnya justru hancur karena kebutuhan birahi yang selama tiga tahun tak pernah Helena rasakan.

‘’Jam berapa kau menjemput aku, nanti?’’ tanya Helena.

‘’Jam tujuh malam ini.’’

‘’Baik aku tunggu selepas mengajar anakku membikin pekerjaan rumahnya nanti,’’ jawab Helena.

‘’Oke, Hel.’’

Pandangan Helena berkeliaran mengantar kepergian Mahram Zaidan dari kediamannya. Di teras rumahnya yang sederhana itulah wanita beribu Jawa dan berayah Jerman ini berdomisili.

foto NET.

Rumah itu ia peroleh setelah usaha konveksinya mulai maju. Ia membelinya dari seorang tua keturunan Cina yang tak memiliki anak. Rumah lama peninggalan zaman Belanda itu posisinya berada di ujung gang. Meski begitu tanahnya cukup luas. Halaman depannya dapat menampung tiga hingga lima kendaraan roda empat.

Setelah Mahram pergi, ia menutup pintu rumahnya. Ia membaringkan dirinya di kamar tidur. Tapi matanya tak mau terpejam. Raut wajah Aldien kembali datang. Lelaki tampan yang pernah ia cintai itu tak ia ketahui dimana keberadaannya. Kadang-kadang ia rindu sekali. Sebab, meski ia berkeras untuk melupakan kehidupan masa lalunya, tapi jujur saja, Helena tak dapat melupakan Aldien.

Jika sudah begitu, kejengkelannya kembali datang. Helena benar-benar ingin membuang ingatannya tentang Aldien. Meski kadang-kadang ia ragu, apakah mampu untuk berbuat seperti itu? Ah, alangkah beratnya cobaan ini, ya Allah.

 

****

 

Helena dan Mahram Zaidan sudah bertolak ke Union Bar. Sebelum pergi, wanita cantik ini menitipkan anaknya Albert yang berusia tiga tahun ke Mbok Minah, orang tua yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.

Setiap hari, Mbok Minah berjualan nasi rames. Ia berdagang di Pasar Turi yang baru dibangun kembali setelah terbakar beberapa waktu lalu. Ia hanya berjualan di emperan toko Cina yang baik hati. Albert sangat akrab dan sudah menganggap Mbok Minah sebagai mbahnya sendiri. Bahkan ketika minta apapun ke Mbok Minah, Albert memintanya seperti kepada nenek kandungnya sendiri. Karena itu Helena tidak ragu meninggalkan anaknya kepada orang tua itu.

Kepada Mbok Minah, Helena selalu meninggalkan uang. Meski Mbok Minah selalu menolak, tapi Helena tetap menginginkan agar Mbok Minah menerimanya sebagai keikhlasan dari seorang anak kepada ibunya.

‘’Sebenarnya, Mbok sangat ikhlas mengurus Albert. Bagi Mbok, anak ini sama seperti cucu sendiri. Jadi, kalau nak Helena memberikan uang hanya karena Mbok mengurusi anak ini, wah, saya ndak nerimanya, lho,’’ ujar Mbok Minah, mencoba mengembalikan amplop berisi uang itu ke tangan Helena.

‘’Tidak Mbok, jangan kembalikan uang ini. Saya tidak berpikir seperti itu. Saya hanya mencoba berbagi rejeki sama Mbok. Apa salahnya jika saya dapat rejeki cukup banyak lalu berbagai rasa dengan Mbok Minah, rasanya tidak salah, kan?’’ tukas Helena sebelum pergi bersama Mahram Zaidan ke Union Bar.

Malam itu, tampilan Helena cantik sekali. Ia hanya mengenakan busana sederhana berwarna pink, namun sebagai wanita yang memiliki bentuk tubuh aduhai, kecantikannya justru semakin menonjol. Mahram Zaidan begitu bangga duduk berdekatan dengan wanita ini sembari berkenalan dengan tiga investor dari Belgia.

‘’Mark Dukate, ini Rob Walse dan yang memakai jas hitam ini, Romans William,’’ ujar Mahram mengenalkan ketiga pria muda Belgia ini kepada Helena.

‘’Helena Marquissa,’’ tukas Helena mengenalkan namanya. Senyum wanita ini sangat menggoda Romans William. Diam-diam mata pemuda itu seringkali melirik ke diri Helena. Sementara Helena pura-pura tidak mengetahuinya.

‘’Kami setuju jika kalian bertiga ingin membuka usaha pakaian di sini. Bahkan kami sudah lama menunggu kabar dari anda, Mark,’’ kata Mahram dalam bahasa Inggris yang fasih.

‘’Ok, Marham. Sebenarnya kami sudah lama ingin ke Indonesia untuk menanamkan investasi di sini. Tapi kami selalu memperhitungkan omset secara internasional yang bakal kita hasilkan. Sebab, ini menyangkut untung rugi yang akan kita hadapi,’’ ujar Mark Dukate, tersenyum.

Marham tersenyum. ‘’Anda tak perlu mengkhawatirkan itu. Sebab, dalam berbisnis, untung rugi adalah fakta yang harus dihadapi dengan cara memperhitungkan besar atau tidaknya investasi yang ditanam. Sementara kualitas barang yang kita produksi harus disesuaikan dengan selera pasar internasional,’’ tambah Mahram.

‘’Saya setuju dengan pemikiran anda, Mahram,’’ ujar Rob Walse mencoba berbicara. ‘’Memang, memproduksi barang dagangan itu tidak cuma kualitas yang dikedepankan, tapi juga mode dan tren masa kini yang harus menjadi sasaran kita. Hal itulah yang menjadi pertimbangan kami, Bung,’’ tambahnya.

Mahram dan Helena mengangguk. Kedua teman  bisinis ini setuju jika ketiga pemuda dari Belgia itu mempunyai pandangan yang sejalan. Prinsif Mahram, jika melakukan bisnis tanpa arah dan setujuan, maka usaha itu akan menjadi tinggal nama saja, alias colaps.

Setelah melakukan perbincangan panjang lebar, ketiga pemuda Belgia itu akhirnya setuju menanamkan sahamnya ke perusahaan Marham Zaidan. Peluang baik ini sangat menyenangkan hati Helena. Berarti ia akan banyak menerima order pekerjaan yang dapat menguntungkan koceknya dari Mahram Zaidan.

Setelah Mark Dukate, Rob Walse dan Romans William menandatangani surat kerjasama memorandum of understanding, Marham main mata kepada Helena. Di kamar peristirahatan, keduanya berciuman mesra. Di kamar itu, keduanya tenggelam ke dalam pesta birahi.

Sesaat setelah birahi mereka mereda, keduanya tidur bergelimpangan di ranjang. Helena dan Marham tak mengenakan sehelai benang pun saat itu. Mereka saling berpagutan. Tampaknya, Mahram telah menyintai Helena sejak kali pertama ia ketemu wanita ini dalam kegiatan fashion show yang lalu. Mahram terkesan menyaksikan penampilan Helena yang menjadi mode utama dalam kegiatan itu.

Setelah asyik melampiaskan birahi, pintu kamar diketuk seseorang. Mahram dan Helena segera mengenakan bajunya kembali. Ketika pintu kamar itu dibuka, perasan Helena tercekat. Sebab, orang yang mengetuk itu adalah Aldien suaminya yang menghilang lima tahun lalu. Aldien kebetulan bekerja sebagai office boy di Bar Union tersebut. Perasaan Helena tak karuan. Ia memandang tajam ke diri Aldiens. Sementara Aldiens menundukkan mukanya ke lantai. Ya Allah, inikah balasan kesabaranku setelah menerima cobaan yang sangat berat selama lima tahun terakhir?

 

September 2017

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.