Lahan Tidur Digarap, Desa Suka Pindah Jadi Lumbung Padi Sumsel

Dawa: Sejak Kecil Diajarkan Membatu Orang Susah

PALEMBANG, BuanaSumselNews.com – Meski sudah dilayangkan berapa kali surat peringatan oleh Bupati Banyuasin, namun Dawa Mashur tak peduli. Ia tetap menggerakkan masyarakat untuk mengelola lahan tidur seluas 1.600 hektare.

Lahan tidur seluas itu dibentuk menjadi areal persawahan pada tahun 2012-2015, sehingga terjadilah panen raya. Hasilnya, justru sangat membanggakan, yakni 9,3 juta ton pertahun. Target Dawa untuk mengangkat nilai masyarakat setempat tercapai. “Saya senang melihat hasil yang sudah saya lakukan ini,” ujar Dawa kepada BuanaSumselNews.com, kemarin (8/10/2018).

Padahal sebelumnya, Bupati Banyuasin (waktu itu), Yan Anton Ferdian, memandang minor atas tindakan Dawa. Ia mengaklain tanah garapan Dawa dan 600 petani yang ia libatkan adalah tanah pemerintah.

Sebab, Dawa yang lahir tahun 1969 di Desa Suka Pindah Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin, Sumsel itu, dinilai telah memanfaatkan tanah milik pemerintah. Karena itu Yan Anton melayangkan surat teguran beberapa bagi kepada lelaki keras kepala ini. Dawa pun tetap tak peduli.

Ia justru semakin gencar melaksanakan visi misinya. “Saya tidak ingin dikatakan anak desa yang tak mempunyai karakter keras untuk meningkatkan tarap hidup masyarakat desa saya,” katanya.

Dengan melibatkan 600 petani yang terdiri dari 200 kepala keluarga (KK), Dawa melakukan gebrakan untuk mengangkat pertanian warga. Hebatnya, Dawa pun melibatkan 300 petani setempat dan 300 petani dari luar daerah. Karens dari usaha inilah Desa Suka Pindah menjadi lumbung beras di Sumatera Selatan. Saat itu, Yan Anton menjadi tak enak hati.

Isi surat peringatan dari Yan Anton berisi pernyataan bahwa status lahan yang dikelola adalah lahan suaka. Ayah dari tiga anak bersama istrinya Erna tamatan SMA Paket C, tetap membandel dan melawan surat pernyataan Bupati Banyuasin.

Atas prestasinya itu, ia diminta masyarakat untuk menjadi anggota DPRD (wakil rakyat). Karena masyarakat meminta agar nanti Dawa dapat memperjuangkan nasib warganya. “Beliau sudah pernah menjadi kepala desa selama dua periode. Kami senang dengan beliau. Sebelum menjadi kades, beliau sudah sering menolong warga. Segala kesulitan warga beliau tolong. Begitupun ketika beliau menjadi kepala desa, segala urusan warga beliau handel dan selalu bisa dia selesaikan,” ujar Jasi, warga setempat itu tersenyum.

Sementara itu, ketika Dawa dimintai keterangan terkait keberhasilannya, lelaki ini mengatakan hanya kebetulan untuk mencoba mengangkat harkat dan tingkat kesejahteraan masyarakat setempat.

“Saya sudah biasa membantu orang. Sikap itu sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga saya. Jika ada orang yang sedang dalam kesulitan, kami berusaha membantunya. Sejak kecil saya diajarkan ibu saya untuk berbuat baik kepada sesama kita,” kata Dawa menutup perbicangan dengan BuanaSumselNews.com. (adeni)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.