Menembak Mati Bandar Narkoba Boleh, Tapi Dalam Kondisi Terdesak

Nur Kholis: Dalam Situasi tak Menguntungkan

PALEMBANG, BuanaSumselNews.com – Memutuskan mata rantai peredaran narkotik dan obat-obat terlarang (narkoba), harus dilakukan secara tegas. Jika tidak dilakukan dengan cara keras dan tegas, para bandar diam-diam akan terus mengembangkan sayap untuk merusak bangsa ini melalui peredaran narkoba.

Komisioner Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), Nur Kholis, mengatakan jika keadaannya sudah sangat meresahkan, polisi boleh melakukan kekerasan terhadap para pengedar narkoba.

“Namun kita harus melihat situasinya terlebih dahulu. Sebab di negera merdeka sepeti Indonesia, sikap keras dan kekerasan yang melukai seseorang tidak boleh dilakukan,” ujar Nurkholis kepada BuanaSumselNews, Sabtu (6/10/2018).

Menurut mantan Ketua LBH Palembang itu, kekerasan sangat dilarang untuk diberlakukan terhadap siapa pun. Apa pun bentuk dan sikapnya, ketika menghadapi ulah para bandar narkoba, harus dicari jalan keluar yang baik.

“Kita boleh keras apabila seorang petugas berada dalam kondisi terancam. Itu pun melihat kedaannya, apakah kita sudah harus melakukan tindak kekerasan? Inilah yang harus menjadi pertimbangan kita,” katanya.

Menurut dia, ulah para bandar narkoba pun telah melanggar hak azasi manusia. Dengan cara mengedarkan narkoba ke generasi muda, sikap mereka sudah melakukan kekerasan secara terselubung.

“Luka kulit akibat pisau, masih belum terasa keji. Tapi jika anak-anak muda kita dirusak dengan narkoba, selain generasi kita yang hancur, negeri ini juga hancur akibat bergelimpangan sejumlah korban,” katanya.

Jika seorang polisi menghadapi situasi dan kondisi seperti itu, maka layak jika menggunakan kekerasan untuk meredam dan memutuskan mata rantai ulah dan sikap mereka ke wilayah tertentu.

Sementara itu, untuk mempersempit ruang gerak para bandar narkoba, beberapa waktu lalu, petugas Direktorat Reserse (Ditres) Narkoba Polda Sumsel terpaksa harus menembak mati Darmizon. Warga Desa Pajar Jaya Raya II, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin itu ditembak mati setelah Darmizon berusaha kabur ketika motornya dhentikan petugas.

Maut yang diterima Darmizon itu terjadi di Jalan Palembang-Betung, depan SPBU Lubuk Lancang, Kabupaten Banyuasin. Setelah mendapat informasi, polisi mencoba menghentikan sepia motor yang dikendarai bandar narkoba tersebut. Namun Darmizon berusaha kabur. Menyaksikan gelagat yang kurang baik, anggota Ditresnarkoba Polda meletupkan tembakan peringatan. Namun Darmizon mengabaikan tembakan peringatan tersebut. Tembakan kedua yang mendarat di pantat kiri Darmizontidak membuatnya berhenti.

Setelah tembakan terakhir menghantam punggung dan menembus dadanya, Darmizon tak berkutik. Ia pun menyerah tanpa perlawanan. “Saat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya melayang,” ujar Direktur Reserse Narkoba Kombes Pol Farman.

Menurut Farman, penangkapan terhadap tersangka dilakukan setelah dilakukan penyelidikan selama sebulan. Ternyata Darmizon termasuk bandar narkoba yang sering menjualbelikan narkoba asal Aceh ke kota besar, seperti Palembang dan Kabupaten Banyuasin. (abror)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.