“Mengumbar” libido di Red Light District

‘DALAM dunia etika (agama), seks dan kebebasan selalu menjadi pertentangan hebat dari masyarakat. Sebab, secara etik, kebebasan mengekspresikan seks tanpa norma agama, diibaratkan sebagai pelampiasan libido hewani. Namun lain halnya di red light district, Amsterdam, perilaku seks bebas, ganja dan perjudian, justru memperoleh legalitas dari pemerintah setempat. Benarkah ?

Anto Narasoma, Amsterdam

Berada di Amsterdam, Belanda pada musim semi, suasananya sangat memikat. Di taman-taman kota, bunga-bunga tulip yang beraneka warna itu mengumbar kecantikan alami. Saya dan teman-teman yang berlibur kesini, sempat berdecak kagum menyaksikan keindahan suasana Kota Amsterdam. Sembari minum susu hangat, kami duduk-duduk di tepian Amstel River (Sungai Amstel) yang bersih dan romantis.

Setelah beberapa saat menikmati keindahan sungai itu, kami berjalan menyusuri jalan di tepian Amstel River. Di kiri-kanan jalan terdapat pertokoan dan apartemen penduduk yang begitu eksotis. Cat dinding bangunan yang didominasi warga krem atau kecoklatan, kian menambah romantic meperjalanan kami.

Saya tak dapat membayangkan begitu indahnya suasana Kota Amsterdam, saat itu. Tiba di kawasan lampu merah (red light district) pada petang hari, orang-orang muda dan para pelancong dari berbagai belahan dunia, ramai berlalu-lalang dikawasan itu.

Wuih, ada apa ini? Saya dan beberapa rekan mencari info mengenai itu. Kebetulan kami berkenalan dengan seorang security yang menjaga keamaan red light district, namanya Jan Piter Van Bormann. Lelaki tampan ini menjelaskan, kehidupan seks masyarakat di seputaran red light district cukup bebas. 

“Prostitusi, konsumerisme ganja dan perjudian di sini dilegalkan pemerintah kami. Jika berminat menikmati layanan gadis-gadis penjual cinta, anda bias jalan lurus melewati gang-gang di ujung De Wallen. Di sanalah tempat prostitusi legal yang banyak didatangi pelancong,” ujar Jan dalam bahasa Inggris yang fasih.

Setelah berbincang sejenak dengan lelaki muda yang ramah ini, akhirnya kami memutuskan untuk melihat-lihat ujung jalan seputaran De Wallen, tempat protitusi legal itu berada.

Sekitar dua ratus meter dari lokasi De Wallen, kami melihat beberapa pasang muda-mudi yang memadukasih di bench –bangku taman- dekat parkiran sepeda, samping kananThe Lovers Bridge (jembatan percintaan). Ah, tanpa canggung dan malu-malu, mereka berpelukan dan berciuman di tengah orang ramai. Wuih, kalau sudah begini, saya jadi teringat masa remaja dulu.

 

Tiba di gang-gang kawasan De Wallen, kami melihat wanita-wanita cantik berbusana super minim dan nyaris telanjang. Kulitnya yang begitu putih makin mempercantik potongan gadis yang berada di balik kaca (istilahnya kaca aquarium) tersebut.

Parasnya yang cantik itu selalu dihiasi senyum menawan. Wow, gadis-gadis itu cantik bak boneka berbi. Rambutnya yang beraneka warna, terutama yang berambut blonde, menjadi magnet kuat bagi lelaki hidung belang.

Ketika kami melintas di sepanjang gang De Wallen, sejumlah ‘gadis manekin’ di balik kaca itu melambaikan tangannya kearah kami. Ia member isyarat agar kami mampir kesana.

Kita pasti bertanya, berapa ongkos yang kita keluarkan sekali bercinta dengan mereka? Dari informasi pengelola prostitusi gang De Wallen, bayarannya tergantung dari servis yang diberikan kepara pendatang.

“Pokoknya, sekali ‘main’, sekitar  100-300 Euro. Namun sebelum menikmati kebersamaan, peminat disuguhi lakon persetubuhan secara live. Setelah itu acara bebas sesuai keinginan para lelaki yang datang,” ujar Hermann Van Bosch, lelaki penuh tato ditubuhnya itu, tersenyum.

Mendengaritu kami hanya mengangguk dan berlalu dari sana. Menjelang malam perut kami mulai keroncongan. Saya dan rekan-rekan memesan hotdog yang dilumuri saus Thousand Island, mayonnaise, sedikit jamur dan chillie meat dengan segelas susu hangat. Wah, kondisi badan kami segar kembali. (*)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.