Sajak Sajak Pesisir

Anto Narasoma

PESISIR DI PENGHABISAN KEMARAU

hujan ini datang dengan kerinduan. percik airnya yang sedih, menangis di antara tanah pesisir

enam bulan kau tak mucul, hanya air laut yang beriak meneriakkan kerinduan atas jarak panjang kemarau ini

—- turunkan perahu itu. Ikan-ikan menanti di antara bentangan jaring hatimu, teriak para nelayan 

pasir dan tepian pantai menjadi ruang tempat melampiaskan harapan 

: jaga itu, kata nelayan 

belai angin tenggara dari riak air di sepanjang pesisir adalah harapan. puluhan nelayan yang berbusana pukat dan jaring kecokelatan, mengais-ngais makanan di antaran gugusan karang

lihatlah : kepiting dan teripang yang menjadi sahabat menyatakan rindu bagi para pelaut

—- sebab, ikan-ikan dan bentangan pasir sebagai hiasan adalah kasih dari jari-jemari tangan-Nya.

Juni 2018

 

PASIR-PASIR PESISIR BAGAI SAJADAH

laut dan pantai bertaut dalam cinta. karena takdirNya yang memerciki kasih, menghampar bagai sajadah

 di antara gemercik air membelai pasir, hanya ombak tak lelah menyapa dari waktu ke waktu

 Kau tak juga berhenti mengirim riak airmu yang bernyanyi dalam buaian angin pesisir 

—- ayo, jaring sudah penuh muatan sejak malam tadi. sementara benang-benang jaring memohon doa di antara gelombang airmu, teriak anak-anak nelayan

 sementara ikan layar dan cumi-cumi menebarkan rezeki di antara karang-karang laut yang berzikir ke pintu pintu arasy-Nya

 duhai Kekasih, kecipak airMu menyejukkan upaya nelayan menaburi sujud di seputar pasir pesisir 

—- bilakah rasa syukur mendatangkan doa-doa dari jutaan pasir di pesisir ini?

Juni 2018

DI DATAR KENINGKU

ketika Kau hadir dalam kepergian malam harum tubuh-Mu kucium lewat sujud yang datar

 dari doa-doa yang bersedakap dalam konsentrasi aku terbang menjelajahi kebesaran-Mu yang teduh pada langit-langit permohonanku

 : ya Raab,           keikhlasan yang Kau ajarkan kepada malam dan fajar ini hanya sujudlah yang mampu menandingi rasa syukurku

 lembayung fajar yang menjadi selendang jiwaku, berujud aroma kemerah-merahan

aku memunajatkan tangan ke rumah-Mu di angkasa lepas 

maka subuh yang menebarkan rahmat merangkul ayat-ayat di balik ucapan pada lipatan lidahkuyang kelu.

 Desember 2017

ALIF LAM LAM HA

Alif tegak sendiri  di antara lam lam ha; dari harum wujud dari ada sebelum ada

lam lam ha menguatkan kebesaran Alif dari ruang ruang tak terhingga dari sekat sekat tak berbatas

 aku pun tak mampumenerobos kebesaran Alif dari sebutir pasir dalam bentangan awal sebelum awal

 sejak terbentang permulaan yang bermula dari ruang penciptaanNya Aliflah menerobos alaif alif kecil dari butiran-butiran tanah hitam ke tubuh adam

 Aliflah berdiri atas segala  kuasa-Nya ke segenap kurun ke kurun ke segenap sujud sebelum sujud : ke segenap jutaan firman yang melilit sekujur kefanaan alam sebelum alam

 : jika bertanya tentang aku; Aliflah yang berjalan di atas segala dinding urat lehermu, ke Alif lam lam ha sebagai Dia.

 April 2018

TATKALA AJAL

tatkala kupandang sosokmu dari sudut kehampaan terasa hilang segala kekaguman itu

 langkah dan sikap yang terperangkap ke dalam segalanya, hilang bersama bayang-bayangmu sendiri

 jika kata adalah syair jalan hidupmu yang tertera dalam garisan tangan; maka lumutlah kita

 tak ada anak istri tidur seranjang di mata-Nya. hanya kain kafan sebabagi kasur dan bantal di tanah becek

 dari segala catatan dalam total perjalanan yang bertabur senyum, menjadi lembaran buku di bulan ketiga

dalam kepasrahan dililit ajal, wajah dan tubuhmu yang berselimut kapur barus menuliskan segala kisah dalam onggokan istana dan mobil-mobil mewah

 tak ada lagi kesemerbakan harum bunga milik-Nya yang mengawali langkah ke peristirahatan rumah terakhirmu

 anak istri yang kau ceburkan ke lorong-lorong kekayaan cahaya menitikkan air mata di batas kehidupan

 — kau terbairng sendiri dalam dekapan tanah lumpur kehitam-hitaman.

 September 2018

 

DI ATAS KALIGRAFI SUJUDKU

melewati malam berkabut. doa-doa masih belum tertidur Kau bimbing; sujud dan keikhlasan menjadi air dalam percikan air suci-Mu

 gelap malam dan Kau seperti cahaya di dada yang menerangi leburnya kepasrahan

 dari kabut ke kabut dan cuaca gelap di udara lepas membersihkan hitungan, bukalah !

 tatakala kerinduan asma-Mu memenuhi cinta di atas kaligrafiku; terasa sujud dan sajadah memagari kalbu.

 April 2018

MUSIM KETIGA

pintu musim pun terbuka aroma menusuk hidung menjadi selera

 — ini musim ketiga, katanya

 bulir-bulir kemasan memanggil selera daging dan tekstur membentuk keinginan di balik kupasan durian

 ini musim ketiga kau hadir dengan duri-duri perkasa dan bulir-bulir keemasan di lidah anak-anak kota ini 

ah, harummu merangkul selera dari tiap batang keinginan yang  sejak musim-musim tahun lalu memandu hasratku;  durian

 : betapa, kau telanjang dalam butiran buah yang bercinta dengan harga.

 Juni 2018

BOLA-BOLA KETUPAT

berayun di atas terpaan angin ketika sejumlah kesebelasan siaga di antara luasnya lapangan.  napas pun bersorak ke dalam kuah gulai kambing

 bola-bola ketupat mengejar angka untuk tampil dalam strategi. tiap tendangan yang melesat dari kaki-kaki pemain, berjoget setelah skor menerobos pikiran orang-orang di tribun atas

— gol, teriaknya pemain-pemain saling kejar menari bersama kubangan gulai karena kemenangan bola-bola ketupat ada di antara cairan gulai dan lauk-pauk penonton.

 Juni 2018

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.