Tangkap dan Beri Pelajaran Berat bagi Pembakar Hutan dan Lahan di Sumsel

Tarech : Wajib Jaga Eksistensi Bangsa Indonesia

PALEMBANG, BuanaSumselNews.com – Meski dalam dua hari terakhir hujan sudah mulai membasahi Kota Palembang, namun suasana itu belum dapat dimungkinkan sebagai suasana musim hujan. Sebab hujan masih turun dalam suasana sporadis yang kadang hujan dan terkadang tidak.

“Ini belum dimungkin memasuki musin hujan.Sebab dalam dua terakhir hujan hanya sesekali turun dalam jumlah sedang.Hanya kemarin (Minggu, 7/10/2018) terjadi curah hujan namun prekuensinya masih sedang.Artinya, frukuensi curah hujan belum memiki jumlah air yang banyak seperti musim hujan layaknya,” ujar pemerhati masalah sosial masyarakat, politik dan budaya dari Universitas IBA Palembang, Dr Tarech Rasyid, kemarin (Senin, 8/10/2018).

Karena itu Tarech menyarankan agar masyarakat mewaspadai adanya kebakaran hutan yang tiba-tiba membesar dan mengeluarkan asap tebal. Tentu saja, katanya, suasana ini akan merusak alam sekitar kita.

Menurut Tarech, kebakaran hutan dan lahan (karhutlah)seringkali terjadi di berbagai daerah dengan asap tebal yang menyesakkan napas.Bahkan kebakaran itu terjadi malam sehingga kobaran apinya sangat besar.

Kebakaran itu dipicu oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.Mereka ingin membuka lahan perkebunan tapi tidak bermodal.Maka diam-diam dengan sengaja mereka membakar lahan luas yang ada di sekitarnya.

“Mereka ini tidak sadar bahwa tindakan membakar hutan itu akan menyengsarakan banyak orang. Terutama mengancam keselamatan orang-orang di sekitar tempat ia membakar lahan tersebut. Jika ada di antara pembakar hutan dan lahan itu tertangkap, jerat saja dengan ketentuan hokum yang berat.Dengan demikian mereka akan jera,” tegasnya.

Sebagai warga Sumsel, Tarech meminta agar para pembakar hutan untuk menghentikan aktifitasnya.Sebab, jika mereka membakar lahan secara diam-diam, yang mereka dapati hanya kesengsaraan semua orang di provinsi ini.

Sadarkah mereka, ketika hutan yang terbakar itu berkobar hebat asapnya bisa mengepuk ke mana-mana? Bahkan Singapura, Malaysia dan Thailand complainterhadap masuknya kabut asaphitam hasil pembakaran itu ke negeri mereka. “Jangan membuat malu bangsa ini.Hanya gara-gara kebutuhan satu dua orang yang ingin membuka lahan perkebunan, dampaknya membuat malu bangsa Indonesia,” tandasnya.

Sebagai anak bangsa yang baik, kata Tarech, tiap siapa saja berhak untuk menjaga privasi dan kewibawaan bangsa.Sebab, segala hal menyangkut nama baik itu masyarakat Indonesialah yang wajib menjaganya.

Dua hari lalu, sebelum hujan ini turun, suasana Kota Palembang sedikit gelap disaput kabut asap hasil kebakaran hutan. Bahkan kabut campur asap itu demikian tebal sehingga masyarakat pengguna jalan, terutama yang mengendarai sepeda motor harus menutupi hidungnya dengan masker.

 

Laporan BMKG Sumsel, ada beberapa wilayah yang mesti diwaspadai akan terjadi  kebakaran hutan dan lahan. Antara lain,  OKI, Ogan Ilir, OKU, Muaraenim, Banyuasin dan Musi Banyuasin.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Klas I Kenten BMKG Palembang, Nandang Pangaribowo mengatakan, pembentukan awan berpotensi hujan cukup sulit dilakukan.“Bukan berarti ini tidak bisa dilakukan,” katanya.

Hal itu disebabkan adanya pusat tekanan rendah di wilayah Sumatera Bagian Utara, juga sirkulasi Eddy di wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumatera Barat dan sekitarnya).
Sirkulasi Eddy ini ialah pusaran angin dengan durasi harian, berpeluang melanda sejumlah daerah. Kondisi itu menghalangi pergerakan muson Australia, sehingga pergerakan massa udara berproses agak lamban. Tentu saja, hal itu berdampak terhadap wilayah di Sumatera Selatan.“Sirkulasi Eddy menyebabkan pola penyebaran massa udara (divergensi) menyulitkan pertumbuhan awan hujan,” jelasnya.

Minimnya curah hujan memicu kekeringan lahan dan kawasan hutan.Kondisi itu, membuat partikel debu meningkat.“Kondisi ini mempengaruhi kondisi ISPU Kota Palembang,” terangnya.Karena itu pemerintah daerah danmasyarakat harus menyikapinya dengan cara menjaga agar tak terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

Menurut dia, jumlah titik panas (hotspot) di Sumsel mengalami peningkatan.Pada rentang 22-28 September, tercatat 28 hotspot.Tapi 29 September-5 Oktober naik menjadi 40 hotspot. Sementara hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, kemarin terdeteksi ada lima titik panas (hotspot). Sebarannya di dua titik, di OKU Selatan, satu di Muararnim dan dua di Musi Rawas.Sedangkan pencitraan satelit NOAA, hanya ada satu hotspot di Musi Rawas.

“Asap yang masuk ke Palembang kemungkinan adanya kebakaran hutan dan lahan wilayah Ogan Ilir dan OKI,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori.

Ia mengakui, kabut bercampur asap itu terjadi pada malam hingga pagi hari. “Ketika udara menjelang siang, partikel itu hilang sendiri,” tutur Ansori.Pascaselesainya evaluasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pihaknya langsung memaksimalkan enam helikopter yang boleh diterbangkan.Pemadaman kebakaran hutan dan lahan lewat udara kembali digeber untuk mendukung kerja satuan tugas (satgas) pemadaman darat. Hingga 30 September, jumlah air yang telah disiramkan melalui water bombing mencapai 91,4 juta liter.
Dalam 1.018 sorti , ada 12 helikopter melakukan 23.184 kali water bombing. Sedangkan dua pesawat jenis Cassa terus melakukan hujan buatan dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC).“Dari dua pesawat itu, sudah 83.920 kilogram atau sekitar 82 ton garam yang disemai,” urainya.

Sebelumnya, terpantau ada empat hotspot di kabupaten OKI.Satu di wilayah Tulung Selapan, Cengal, dua titik di Mesuji dans atu di Pematang Panggang.Kebakaran terjadi di areal gambut baru yang belum pernah terbakar.(abror)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.