Tradisi Midang Perkuat Nilai Kebudayaan OKI

KAYUAGUNG, BSNLebaran di Kota Kayuagung tidak lengkap kalau tidak menyaksikan Midang Bebuke Morge Siwe. Kemeriahan Hari Raya Idul Fitri semakin terasa dengan acara tahunan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir  (OKI). Salah satu tradisi Kabupaten OKI yang berasal dari legenda rakyat ini melibatkan 11 Kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Kayuagung. Acara budaya yang mirip Karnaval ini berlangsung Minggu (17/6/2018) hingga Senin (18/6/2018) besok.

Pelestarian adat budaya lokal ini juga disaksikan ratusan masyarakat yang tetap antusias meski dibawah terik panas matahari demi melihat sejumlah peserta arak-arakan pakaian adat perkawinan “Mabang Handak” (adat perkawinan kayuagung, -red), dengan berbagai macam pakaian adat perkawinan.

Barisan menampilkan aneka budaya ini  juga diiringi musik  tradisional tanjidor, sekaligus juga merupakan pembatas dari kelurahan yang tengah menyusuri jalan protokol menuju  Kabupatenan.

Sesuai jadwal, 5 Kelurahan sebagai peserta Midang hari pertama yakni, Kelurahan Sidakersa, Jua-jua, Tanjung Rancing, Kayuagung Asli, dan terakhir Kelurahan Kota Raya. Sedangkan hari berikutnya, peserta dari Kelurahan Kedaton, Cinta Raja, Mangun Jaya, Paku, Sukadana dan Kelurahan Perigi turut “unjuk gigi” dengan memakai baju adatnya masing-masing

Plt Bupati OKI HM Rifai menyambut peserta pawai kebudayaan ini di Rumah Dinas Bupati OKI atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kabupatenan.

Diawali Kelurahan termuda di Kecamatan Kayuagung, yakni Kelurahan Tanjung Rancing  berhasil memikat segelintir pejabat yang sedari awal sudah terlihat hadir. Belum diperoleh kabar terkait sedikitnya pejabat Pemkab OKI yang hadir. Selain  itu juga nampak hadir Forpimda, dan udangan lainnya.

Meski diragukan kebenarannya, sempat beredar kabar minimnya kehadiran pejabat, lantaran absennya Bupati Iskandar yang tengah cuti untuk mengikuti Pilkada OKI.

Dari pantauan awak media ini,  Kelurahan pertama yang tiba di pendopoan rumah dinas Bupati OKI, yakni kelurahan Tanjung Rancing yang merupakan kelurahan ke sebelas dan termuda setelah kelurahan Cinta Raja, kemudian disusul oleh peserta midang dari kelurahan Jua-jua, Sidakersa, Mangun Jaya, Kayuagung Asli dan terakhir dari kelurahan Kota Raya.

Plt Bupati OKI, HM Rifa’i, SE didampingi sekda OKI, H Husin, SPd, MM mengatakan, bahwa saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten OKI sangat konsen mendukung tradisi midang sebagai warisan tradisi budaya leluhur yang sangat mahal nilai karakteristiknya.

“Tradisi ini merupakan aset budaya yang sangat diperhatikan disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI. Kondisi midang sampai saat ini masih sangat lestari bahkan berkembang menjadi wisata budaya,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten OKI, Ifna Nurlela mengatakan, bahwa saat ini midang masih menjadi salah satu adat budaya masih bertahan didilestarikan saat ini di kabupaten OKI.

“Adat  arak-arakan ini sudah sejak lama dilakukan, para pelakunya adalah para muda-mudi dalam kelurahan, dahulu midang dilakukan oleh muda-mudi yang kelurahannya ada hajatan pernikahan, Kemudian untuk melestarikanya dikembangkan menjadi agenda tahunan pariwisata setiap tahunnya, tepatnya di setiap lebaran,” ujarnya.

Midang ini sendiri juga menjadi event pariwisata nasional yang artinya midang ini sendiri bukan hanya milik kabupaten OKI  saja tetapi sudah menjadi salah satu atraksi pariwisata yang terdaftar di kementerian pariwisata dan pernah juga ditampilkan diistana negara pada tahun 2007,” ungkapnya.

Salah satu Budayawan OKI, Yuslizal mengatakan, awal mulanya midang bebuke morgesiwe terjadi pada abad ke-17, ketika itu ada perseteruan antara pihak mempelai laki-laki dan perempuan. Pihak mempelai laki-laki berasal dari keluarga yang miskin tetapi berkepribadian yang luhur.

Sedangkan pihak perempuan berasal dari keluarga yang terpandang atau kaya. Sebab perbedaan itulah, pihak perempuan meminta sejumlah syarat berupa kereta hias menyerupai naga dan pengumuman dari keluarga laki-laki. Akhirnya persyaratan itu dipenuhi oleh pihak laki-laki.

“Jadi, sejak peristiwa itulah, masyarakat Kota Kayuagung menyelenggarakan acara midang bebuke morge siwe,” ungkapnya.

Dijelaskanya juga midang dalam istilah masyarakat kayuagung adalah sebuah kegiatan berjalan kaki dengan menggunakan pakaian adat perkawinan masyarakat kayuagung, sedangkan bebuke artinya lebaran.

Ditambahkan Yuslizal, konon waktu itu midang merupakan perkawinan dalam adat yang tertinggi di Morge Siwe atau Sembilan Marga,

“Midang ini juga merupakan persyaratan untuk jemput mempelai perempuan oleh mempelai laki-laki atau masuk dalam adat istiadat perkawinan, seiiring dengan berjalannya waktu midang ini terus mengalami perkembangan sehingga menjadi sebuah agenda pariwisata di OKI,” tuntasnya (Rachmat Sutjipto)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.