Wawancara dan Investigasi di Lapangan

Oleh Anto Narasoma

KAITAN tugas seorang jurnalis (wartawan) adalah menulis berita. Namun dasar utama dari tulisan (berita-straight news) yang ia buat adalah wawancara di lapangan. Dalam ilmu komunikasi, secara teknis, wawancara tidak lebih dari hubungan sebuah pembicaraan yang mengandung misi pengumpulan data.

Lantas, apakah wawancara itu sama nilainya dengan dialog biasa yang dilakukan antarseseorang dengan orang kedua? Sama tapi beda. Lho, kok begitu? Iya.

Sama, karena dari kedua pihak yang sedang berbincang-bincang itu terjalin komunikasi dua arah. Dengan kata lain, orang berdialog berdua, bisa saja membicarakan tentang kesulitan hidup pribadi mereka dalam mencari pekerjaan.

Bisa juga membicarakan tentang politik yang sedang berkembang. Mereka juga bisa membicarakan tentang terjadi korupsi di berbagai institusi. Tapi pembicaraan itu hanya bersipat pelampiasan (pengungkapan) perasaan dari pengetahuan pribadi yang mereka dapati dari surat kabar, atau sumber lain. Sedangkan dalam perbincangan itu tidak dilakukan penggalian data.

Sedangkan wawancara adalah komunikasi dua arah antara wartawan dengan narasumber yang bertujuan untuk menggali data dalam sebuah persoalan. Biasanya, dalam konteks tersebut, pertanyaan wartawan akan menjurus ke inti persoalan yang hangat dan berkembang di masyarakat. Dari perbincangan (wawancara) itu diperoleh keterangan (statement) mengenai suatu persoalan dari sumber yang berkompeten.

Pada dasarnya, pelaksanaan wawancara dilakukan, karena sang jurnalis sedang mengembangkan suatu persoalan yang menarik untuk dipublikasi. Maka itu kasus yang sedang ditanganinya harus dikembangkan ke berbagai sumber di lapangan. Dengan begitu, kasus yang ia tangani dapat dipublisir (diberitakan) secara akurat dan tidak menyimpang dari tatanan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 (tentang pers) sebagai landasan kerja seorang jurnalis).

 

Memahami fakta dan data

Secara teori, berita (straight news) merupakan informasi masak yang ditulis oleh wartawan.  Mengapa sering disebut demikian, karena informasi mentah yang berasal dari masyarakat, belum tentu dapat dikatakan sebagai berita.

Itu artinya, landasan berita yang ditulis wartawan, karena adanya informasi mengenai suatu kejadian (peristiwa). Misalnya, ada seseorang yang datang ke wartawan, ia memberitahukan adanya kasus pembunuhan di suatu tempat. Sumber itu menjelaskan, ada dua korban yang tewas karena sabetan pedang. Apakah tanpa investigasi (check and recheck) ke lapangan sang wartawan boleh langsung menulisnya menjadi berita? Jawabnya tidak!

Mengapa? Karena informasi yang disampaikan seseorang belum memenuhi syarat mutlak untuk dijadikan berita. Syarat mutlak berita yang dimuat di surat kabar, sudah ‘dimasak’ oleh wartawan dengan unsur data, fakta, dan sumber di lapangan.

Untuk itu, setelah wartawan memperoleh informasi dari seseorang mengenai suatu peristiwa, maka wajib bagi wartawan untuk mengembangkan informasi itu dengan cara recheck ke lapangan. Sebagai seorang profesional, ia harus menggali data dari fakta yang ia hadapi.

Misalnya, informasi mengenai kasus pembunuhan. Dalam kaitan ini, wartawan harus mengorek keterangan dari saksi mata, jumlah korban (fakta pembunuhan), pihak rumah sakit (untuk mengetahui korban tewas karena bacokan atau sebab lain), keluarga korban, tersangka, serta polisi.

Mengapa harus selengkap itu? Yah, itulah ciri berita langsung (straight news). Dari data yang dihimpun, wartawan akan dapat menginformasikan peristiwanya secara utuh. Maka itu, sebelum ia menjadi seorang wartawan, yang bersangkutan harus lebih dulu memahami aspek tugasnya sebagai penulis berita (straight news, feature, dan editorial). Karenanya, sebelum ditugasi ke lapangan, terlebih dulu, calon wartawan akan diberi pelatihan mengenai pemahaman dan fungsi berita (straight news), feature, serta editorial (tajuk rencana).

Apa fungsi berita? Melalui media cetak, sebuah berita (straight news) mempunyai fungsi sentral untuk menginformasikan suatu kejadian penting (peristiwa) secara utuh ke masyarakat.

Apa kejadian penting itu? Ya, peristiwa pembunuhan terhadap seseorang atau sekian banyak orang, misalnya.                Mengapa peristiwanya begitu penting? Karena yang terbunuh, bisa saja seorang presiden, menteri, gubernur, walikota, pengusaha ternama, tokoh masyarakat (mubaligh), atau tetangga di sekitar rumah kita.

Dari berita lurus (straight news) yang disajikan, akan dipaparkan secara gamblang tentang kapan peristiwan pembunuhan itu terjadi, siapa pembunuhnya, siapa korban dan berapa jumlah yang tewas, apa kata saksi mata, apa penjelasan dari rumah sakit, dan apa pula bunyi statemen pihak kepolisian. Dari rangkaian sumber data dan fakta di lapangan, akan diperoleh kesimpulan mengenai peristiwa berdarah itu secara utuh.

Dengan kata lain, straight news merupakan berita awal (langsung) yang menjelaskan tentang kejadian suatu perkara di lapangan yang faktual dan aktual.

 

Feature

Straight news atau berita lurus, merupakan informasi masak yang mengungkap suatu peristiwa dengan fakta dan data secara langsung. Di dalamnya tidak ada kesimpulan menurut pandangan penulisnya (opini). Bahkan, di dalam tubuh berita, sangat  ‘diharamkan’ masuknya opini penulis (wartawan).

Sedangkan sebagai karangan khas, justru feature lebih luwes dan lengkap mengulas suatu peristiwa. Dalam feature, peristiwa pembunuhan itu dapat dijelaskan secara panjang lebar. Misalnya, dari saksi mata diperoleh keterangan bagaimana si pembunuh menyerang korbannya. Kalau pun tersangka menyerang korbannya dengan wajah beringas dan haus darah, tulisannya menggambarkan suasana itu. Bahkan dalam tulisan ini digambarkan pula tentang kondisi korban pada saat meregang nyawa.

Lebih dari itu, penulis juga dapat menggambarkan suasana di lingkungan tempat kejadian. Ada ceceran darah, misalnya. Kemudian, dijelaskan pula tentang pedang sebagai alat pembunuhan yang dilempar tersangka ke semak belukar. Semua peristiwa itu dapat dijelaskan secara utuh lewat karangan khas (feature).

Dalam feature, wartawan dapat menceritakan latar belakang pembunuhan. Ia dapat mewawancarai tersangka dan diungkapkan pula motif pembunuhan yang berawal dari dendam terencana atau dilakukan secara spontan. Karena suasana kejadian menjadi sangat penting untuk diketahui masyarakat.

Jadi, tulisan feature berfungsi untuk menjelaskan kembali peristiwa pembunuhan itu secara rinci –setelah informasi (straight news) sebelumnya– dibaca masyarakat di surat kabar.

Tak heran setelah pembaca mengetahui ikhwalnya secara detail lewat tulisan feature, bisa saja mereka akan mengutuk pembunuhan itu. Bahkan, aparat kepolisian yang menangani kasus tersebut terkadang menjadikan tulisan itu sebagai referensi (masukan) bagi penegakkan hukum.

Jadi, tulisan feature berfungsi untuk menjelaskan kembali suatu peristiwa secara lengkap dan utuh. Bentuk tulisan ini banyak kita dapati di majalah Tempo, karena majalah mingguan itu menulis persoalan dengan fakta, data, dan gaya bahasa khas yang enak dibaca. Itulah gaya tulisan bertutur yang disebut feature.

 

Editorial

Editorial atau tajuk rencana, merupakan tulisan bercorak ulasan. Ulasan yang ditulis merupakan pandangan terhadap peristiwa yang sedang berkembang di masyarakat (aktual). Tulisan ini menunjukkan sikap sebuah surat kabar untuk membahas persoalannya, sehingga dapat dijadikan referensi oleh masyarakat.

Misalnya, peristiwa pembunuhan sadis yang menimpa Hamidah –seorang wanita setengah baya—keturunan Arab. Karena peristiwa pembunuhan wanita itu terbilang sadis, maka tiap perkembangan yang terjadi di lapangan sangat menarik untuk diikuti.

Hal menarik seperti ini menarik pula untuk disikapi oleh media yang memberitakan kasusnya. Mengapa peristiwa pembunuhan Hamidah itu menarik dibuat tajuk rencana?

Yah, pertama, peristiwanya tergolong sadis. Bahkan, kasusnya lebih sadis dibanding peristiwa pembunuhan dan perkosaan yang menimpa gadis Masnah pada pada tahun 1968.

Peristiwa Masnah ini  sangat menghebohkan masyarakat Kota Palembang. Sebab, selain diperkosa, ia juga dibunuh secara sadis oleh Parla –pacarnya sendiri– pengelola Radio Electron di Jl Diponegoro, ketika itu. Namun dalam tempo hampir empat puluh tahun sejak terbunuhnya Masnah, peristiwa Hamidah dikategorikan lebih sadis, lantaran kepalanya dipenggal dan dibuang di tempat terpisah.

Apa yang patut diulas dari peristiwa Hamidah? Wah, kita bisa menyoroti kasusnya dari berbagai sudut. Misalnya kita ingin mengulas tentang betapa sadisnya kasus Hamidah (psikologis dan sosiologis). Dalam editorial yang kita tulis dapat dirangkai dengan kesetaraan hukuman apa yang patut diberlakukan kepada si pembunuh, tatkala menyikapi kesadisan yang dilakukannya terhadap Ny Hamidah.

Editorial semacam ini dapat memberikan semangat bagi petugas penegak hukum untuk mempertimbangkan sisi judisialnya, sehingga proses hukumnya berjalan adil. Sedangkan di sisi lain, si pembunuh tidak merasa dizalimi dengan sanksi hukum yang didakwakan kepadanya. Itulah perbedaan mendasar dari fungsi editorial dibanding straight news (berita lurus) serta karangan khas (feature).

Dengan kata lain, kalau straight news dan feature hanya memberikan gambaran kejadian secara runtut ke masyarakat, sedangkan editorial berfungsi untuk menggugah masyarakat dan penegak hukum dalam menyikapi suatu peristiwa yang sedang berkembang  di masyarakat (aktual).

 

Mengenal fakta kejadian

Fakta, merupakan bentuk suatu peristiwa kejadian secara otentik (nyata) di lapangan. Fakta kejadian mengandung unsur (rumusan) peristiwa secara runtut. Apakah peristiwa kejadian yang hanya dilaporkan seseorang bisa disebut fakta otentik?

Misalnya, ada laporan dari seseorang yang menjelaskan tentang suatu peristiwa pembunuhan di satu tempat. Apakah peristiwa pembunuhan yang dilaporkan itu merupakan fakta kejadian? Itu bukan fakta kejadian. Bisa jadi laporan itu merupakan informasi bohong yang harus digali kebenarannya.

Bisa saja, laporan yang disampaikan seseorang mengenai kasus pembunuhan itu didapatnya dari orang lain. Selanjutnya, orang lain itu yang nelaporkan ke pelapor terakhir, juga mendengar dari laporan orang lainnya lagi. Karena produk laporan itu berasal dari mulut ke mulut, maka kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan faktanya menjadi diragukan. Laporan semacam ini tidak harus dipercayai lantaran nilai otentiknya terlalu sumir dan sangat menyesatkan.

Untuk mengetahui apakah laporan itu merupakan fakta kejadian yang benar, wartawan harus melakukan chek and rechek ke lapangan. Dari hasil pantauannya di lapangan, si wartawan akan dapat memastikan sendiri tentang fakta kejadian sebenarnya.

Fakta peristiwa pembunuhan, misalnya, terkandung adanya fakta korban, fakta pelaku, fakta waktu kejadian, fakta saksi mata (kalau misalnya ada kesaksian dari seorang atau beberapa orang), fakta barang bukti senjata tajam/sejata api/ atau benda tumpul penyebab kematian korban, ..dsb.

Ada berapa motif fakta kejadian yang harus diketahui wartawan? Fakta kejadian terdiri dari dua motif. Motif pertama adalah fakta kejadian yang tampak, dan kedua, fakta kejadian yang tersembunyi atau disembunyikan.

Lho kok begitu? Iya. Lantas, bagaimana motif (bentuk) fakta kejadian yang tampak? Wah, kalau seorang wartawan tidak paham dengan motif kejadian yang tampak, dongoknya sudah kelewatan. Karena motif kejadian yang tampak adalah, peristiwa yang dapat dilihat dan disaksikan secara langsung oleh sang wartawan (peristiwa kebakaran, misalnya), atau kesaksian saksi mata pada kasus pembunuhan yang dilengkapi hasil outopsi dari rumah sakit.

Sedangkan motif kejadian yang tersembunyi atau disembunyikan adalah, motif kasus kajadian korupsi, mark up harga penyediaan barang, atau penyimpangan isi surat penting berupa dokumen negara yang melibatkan orang penting (petinggi pemerintahan). Kasus kejadian seperti ini cenderung ditutup-tutupi, bahkan persoalannya sengaja disembunyikan dari masyarakat dan penegak hukum.

Maka itu, sebagai hunter news, seorang wartawan harus mengenal nilai-nilai kejadian yang menarik untuk diberitakan, misalnya kasus korupsi yang tersembunyi atau disembunyikan itu. Pokoknya, apa pun halnya, masyarakat berhak untuk mengetahui informasi yang memiliki nilai news (berita) menarik.

Bagaimana wartawan dapat mengetahui adanya fakta kejadian yang disembunyikan seperti kasus korupsi yang melibatkan seorang pejabat?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita membutuhkan cara logis yang dapat dijadikan acuan bagi pengungkapan kasus dimaksud. Selain informasinya sangat menarik, kita membutuhkan data yang kuat untuk menyingkap keterlibatan pejabat dimaksud.

 

Idealisme dan Komersial

Ketika melaksanakan tugas jurnalistiknya di lapangan, persoalan mendasar yang dihadapi wartawan adalah dirinya sendiri. Itu artinya, ia harus bertanya dulu ke dirinya sebelum mewawancarai narasumber. Mengapa bgitu? Sebab, tidak semua wartawan memahami nilai profesinya sebagai pengemban kontrol sosial. Maka itu tidak jarang seorang wartawan cenderung menjadi ‘pelacur’ yang tega menggadaikan harga dirinya setelah disumpal dengan segepok uang agar tidak memberitakan hal terburuk yang berkaitan dengan nama baik si narasumber.

Lantas, apa yang harus ditanyakan ke diri sendiri? Pemahaman terhadap tugas-tugas seorang jurnalis. Itu saja. Pemahaman tugas yang bagaimana? Tentang etika kewartawanan (kode etik jurnalistik/KEJ) dan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang aturan pers.

Begitu? Iya. Karena  pemahaman tentang KEJ dan UU No. 40/1999 merupakan landasan mendasar bagi profesionalisme wartawan. Jika tidak memahami itu, idealisme seorang wartawan akan tergadai. Jual-beli profesi (harga diri wartawan) akan terjadi di lapangan.

Contohnya? Ya, banyak. Kita tidak perlu menunjuk hidung yang bersangkutan. Itu tidak etis. Pokoknya tidak sedikit wartawan yang menjualbelikan idealismenya untuk tujuan tertentu. Golongan jurnalis seperti ini ibarat kerbau dicocok hidung, sehingga independensinya (keleluasaannya) di lapangan selalu dibatasi oleh kepentingan duit, duit dan duit.

Lalu, bagaimana mengatasi sikap buruk wartawan amplop semacam itu? Kembalikan saja persoalannya ke diri sendiri. Karena tidak ada seorang pemimpin redaksi di surat kabar mana pun yang mampu mengatasi itu, selain pribadi yang bersangkutan sendiri.

Maka itu, pemahaman terhadap nilai-nilai kode etik jurnalistik (KEJ) dan UU No. 40/1999 menjadi sangat penting. Karena nilai dasar bagi seseorang untuk menjadi wartawan profesional adalah, memahami dan melaksanakan kode etik dan undang-undang yang mengatur tentang tugas-tugas seorang jurnalis.

Apa KEJ itu? KEJ adalah aturan yang mengatur tentang sikap dan kepribadian seorang jurnalis ketika ia melakukan tugasnya di lapangan. Dengan harapan, jika seorang jurnalis mampu memahami KEJ secara mendasar, setidaknya dapat membangun kepribadian seorang jurnalis yang bermoral tinggi (beretika), agar tidak mudah disuap oleh siapa pun.

Pada poin (5) Kode Etik Wartawan Indonesia  (KEWI/KEJ) disebutkan, wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesinya. Itu artinya, sebagai panduan etika kewartawanan, KEJ dengan tegas mengharamkan seorang wartawan untuk menerima uang suap. Sikap buruk dengan cara minta ke sana-sini, akan menghancurkan nilai-nilai pengabdian dirinya sebagai wahana kontrol sosial masyarakat.

Pada Bab VIII pasal 7 (poin 2) UU No. 40/1999 disebutkan, wartawan harus menaati ketentuan butir-butir yang ada di dalam KEJ. Dengan begitu, sikap menerima imbalan dalam bentuk apa pun dari narasumber, akan menghancurkan hakikat profesi seorang wartawan. Jika ada wartawan yang mempunyai sifat buruk seperti itu di SKH Sumatera Ekspres, maka yang bersangkutan tidak akan lebih lama lagi bekerja sebagai wartawan di koran ini (dipecat).

Namun untuk memberi sanksi tegas kepada wartawan yang diduga menerima suap, kasusnya harus diteliti dulu secara cermat oleh tim Ombusmen sebuah surat kabar. Artinya, pihak manajemen tidak perlu terburu-buru untuk menindak yang bersangkutan dengan sanksi administrasi. Bisa jadi, laporan yang menjelekkan tentang seorang wartawan menerima amplop dari narasumbernya, hal itu hanya sekadar untuk menjatuhkan kredibilitas yang bersangkutan. Jika penelitian belum final, sementara pihak manajemen sudah melakukan pemecatan terhadap sang wartawan, berarti manajemen sudah berbuat zalim. Dengan begitu, si wartawan bisa melakukan gugatan hukum atas tindakan manajemen yang tidak mematuhi aturan main.

Di sebuah surat kabar besar seperti Sumatera Ekspres, idealnya harus dibentuk Tim Ombusmen yang bekerja untuk meneliti kasus-kasus seperti itu. Dengan begitu, jika terjadi kasus suap yang dilaporkan masyarakat, penyelesaiannya dapat dilakukan secara bijak.

Bijak artinya, tidak menjatuhkan sanksi seenaknya karena rasa tidak suka kepada sang wartawan atas laporan itu. Namun keputusan untuk memecat si wartawan, karena yang bersangkutan dinyatakan terbukti secara hukum telah menerima suap atas suatu kasus.

Dari rangkaian itu, KEJ (kode etik) tidak hanya diberlakukan atas kerja jurnalistik seorang wartawan, namun pihak perusahaan surat kabar pun harus melaksanakan ketentuan yang diatur di dalam butir-butir KEJ dan UU No. 40/1999.

Yang jadi dipertanyakan, mengapa terjadi kasus suap terhadap seorang wartawan? Jawabnya sederhana saja, yakni kesejahteraan yang diterima wartawan. Jika kebutuhan lebih besar ketimbang gaji yang ia terima dari perusahaan surat kabar tempatnya bekerja, maka kasus suap cenderung akan terjadi.

Apakah gaji besar tidak akan memunculkan proses jual-beli idealisme? Itu pun tidak menjamin. Yang pasti, sebelum menjadi wartawan, seseorang harus memahami bahwa bekerja sebagai jurnalis bukan untuk mencari kekayaan. Jika mau kaya raya, lebih baik mencari pekerjaan lain. Kerja apa? Ya, berdagang (jadi pengusaha), misalnya.

Yang pasti, butir-butir KEJ dan UU No. 40/1999 dapat memberi arahan dasar bagi keluhuran moral dan etika seorang jurnalis. Itu saja landasan yang perlu kita perhatikan.

 

Wawancara dan Investigasi

Seperti  sudah diketahui bersama, tugas seorang wartawan sehari-harinya adalah menulis. Ia menulis apa saja di surat kabar tempat dia bekerja. Tak heran bila  tugasnya dituntut untuk selalu bekerja keras, dengan cara mengembangkan  bermacam persoalan di luar dirinya.

Dari hasil investigasinya di lapangan,  seorang jurnalis mampu mengesploitir berbagai persoalan di masyarakat.  Misalnya ikhwal yang berkaitan dengan politik, pemerintahan,  sosial budaya, kriminal, seni dan hiburan, serta beragam persoalan lainnya yang ia kemas lewat  berita.

Lantas, apa saja yang ia lakukan  untuk menulis berita di surat kabarnya? Pertama,  sang wartawan perlu mengkaji suatu persoalan yang sedang berkembang saat ini.   Caranya? Yah, tidak sulit. mereka harus memahami betul persoalan apa yang sedang ia  kembangkan. Setelah paham mengenai persoalan itu,  hal kedua yang harus ia lakukan adalah, wawancara. Dalam kesempatan ini saya hanya  memfokuskan pembicaraan tentang cara (teknik) melakukan wawancara di lapangan.

 

Investigasi di Lapangan

Bagaimana cara seorang wartawan melakukan investigasi dan wawancara ke beberapa sumber di lapangan? Wah, gampang sekali.  Seperti yang sudah dijelaskan di atas adalah, kita harus  paham dengan persoalan yang akan ditanyakan ke narasumber. Kalau paham dengan persoalan, kita akan mudah menanyakannya ke sumber terkait dengan persoalan yang kita garap.

Misalnya,  kita mendapat tugas dari redaktur atau redaktur pelaksana untuk meliput (mengembangkan) kejadian  kebakaran di suatu tempat.  Setelah di lapangan, apa  yang harus kita lakukan?

Kalau kita tahu bahwa yang kita hadapi itu adalah musibah alam seperti kebakaran, pertama kita perlu mencatat nama wilayah (kampung, desa, atau kota apa),  melihat ke arloji untuk mengetahui waktu kejadian,  serta  memburu sumber-sumber terkait dengan kejadian.

Siapa sumber-sumber yang harus dihubungi dan diwawancarai? Yah,  pertama adalah saksi mata.  Lantas kita tanyakan (wawancarai) beberapa korban. Untuk melengkapi  data persoalan itu, sebaiknya kita wawancarai juga ketua RT,  lurah/kepala kampung-desa,  camat,  walikota/bupati, pihak kepolisian, serta  dinas kebakaran.

Apa yang harus ditanyakan ke  saksi mata?  Tentunya  berkaitan dengan segala yang ia ketahui  (saksikan) sejak awal terjadinya kebakaran. Lalu tanyakan pula, pukul berapa saat kebakaran itu terjadi. Korek keterangan  dari saksi mata mengenai asal api.

Dari saksi mata, sebenarnya kita dapat mengembangkan informasi  mengenai kebakaran tersebut, sehingga data yang didapat menjadi lengkap dan dapat ditulis secara tragika.

Misalnya saksi mata mengatakan,  api mulai terlihat dari rumah seorang penduduk bernama Lek Kromo. Lantas, apa yang akan kita lakukan terhadap Lek Kromo?  Yah, pertama  yang kita lakukan adalah menyatakan turut belasungkawa.  Siapapun, ketika kita hadir dengan perasaan ikut berbelasungkawa, korban akan menerima kehadiran kita. Setelah itu, secara perlahan kita ajak bicara mengenai  runtut kejadiannya.

Mudah-mudahan  dari mulut Hasan  akan meluncur riwayat kejadian sesuai yang diutarakan saksi mata. Kalau kebetulan Lek Kromo adalah penjual bakso, ia pasti akan  menjelaskan tentang  kobaran api yang  berasal dari dapurnya. Bagaimana seorang Hasan akan merebus  butiran baksonya pada hari itu. Kemudian ia juga akan menjelaskan tentang meledaknya kompor gas yang ia gunakan, misalnya.

Karena dinding dapur tempat ia bekerja terdiri dari papan  yang sudah tua, tak ayal  si jago merah pun dengan mudah melahap bangunan dapur dan rumahnya yang berukuran sekian kali sekian itu.

Dari sini kita sudah mendapat gambaran mengenai situasi kebakaran di wilayah itu.  Jika sudah demikian,  kita langsung dapat mengembangkan ikhwalnya dengan data-data tambahan. Sebab, wartawan tidak hanya dituntut untuk meliput dan mencari data  selengkap mungkin,  tapi instinknya sebagai  seorang jurnalis  harus peka.  Dengan kepekaannya, ia akan dapat menulis berita padat dengan nilai plus yang tidak didapat oleh wartawan lain ketika sama-sama investigasi (meliput) ke lapangan.

 

Kepekaan Instink

Kita mengenal instink sebagai naluri yang dimiliki setiap orang. Naluri, jika tidak diasah dan diberdayakan oleh seseorang, ia tidak akan menjadi seseorang yang gesit dan mempunyai kepekaan lebih.

Seorang pedagang (nasi), misalnya. Jika ia mempunyai kepekaan bisnis (naluri), yang akan dilakukannya pertama kali adalah mencari tempat berusaha dan mempelajari prospek usahanya. Hal itu penting dilakukannnya, agar usahanya dapat berkembang. Jika tempat usaha yang ia dapati sesuai dengan prospek perhitungan bisnisnya, maka sang pedagang pasti akan membuka kedai nasinya di sana.

Lantas, bagaimana mengasah kepekaan naluri seorang wartawan ketika melakukan investigasi di lapangan? Tidak perlu belajar secara formal. Kita dapat mereferensi itu lewat kemampuan para senior kita. Bahkan kita dapat membaca berbagai tulisan para wartawan ternama di sejumlah surat kabar.

Apa keterkaitan instink kita dengan kejadian kebakaran yang kita liput saat ditugaskan redaktur?  Nah,  setelah kita memperoleh penjelasan dari Lek Kromo  –si tukang bakso— mengenai asal-muasal kebakaran,  dengan kepekaan yang ada, kita juga perlu mencari  tahu apakah ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Jika ada,  maka  kita dapat menulis artikelnya  dengan gaya bertutur yang  dapat memancing emosi pembaca.  Misalnya kita mendapat data dari saksi mata atau ketua RT setempat yang menyatakan ada tiga korban jiwa terpanggang api dalam kejadian itu.  Tentunya kita perlu mengorek keterangan sebanyak-banyaknya mengenai itu.

Misalnya, siapa korban tesebut?  Bagaimana keadannya sebelum api memanggang tubuh mereka. Jika yang terpanggang api itu adalah seorang nenek dan dua cucunya, kita dapat menceritakannya secara runtut dengan gaya bertutur yang  memancing  emosi kesedihan (human interest).

Dari hasil wawancara dengan  saksi mata didapat, misalnya nenek tersebut bernama Sukesih (64). Ia terkena struk ringan, sehingga, meski tidak cacat, tapi jalannya agak timpang. Sedangkan dua cucunya bernama Deni dan Tuti. Ia ikut neneknya karena sang ibu bekerja di Malaysia sebagai TKI. Bagaimana cara menulis hasil wawancara itu secara deskriptif dan bertutur? Berikut contoh yang harus dilakukan:

 

——

Kebakaran yang menghanguskan ribuan tempat tinggal penduduk Desa Melati (misalnya nama desa itu Melati) benar-benar memprihatinkan.  Api tidak saja meluluhlantakan ribuan rumah penduduk, tapi tiga nyawa anak manusia pun ikut terpanggang si jago merah.

Malam itu, nenek dan dua cucu yang naas tersebut, tidur dalam satu kamar.  Tepat pukul 2.00 dinihari, tertengar teriakan penduduk yang mengatakan ada kebakaran. Nenek Sukesih  terjaga dari tidurnya.  Ia begitu kaget dan segera membangunkan dua cucunya. Tapi malam itu  Deni dan Tuti tidur begitu lelap hingga ia  tidak lekas terjaga.

Ternyata, api yang berkobar telah membakar dinding rumah nenek Sukesih.  Gemeretak api begitu ngeri  terdengar. Seolah gemertak api yang membakar dinding seperti suara malaikat maut yang segera menyergap ketiga nyawa  anak manusia itu.

Saat itu, asap hitam mulai  memenuhi  kamar tidur. Dengan napas tersengal Sukesih berupaya menarik tubuh dua cucunya yang mulai terjaga.  Namun ketika terjaga dari tidurnya, Deni dan Tuti terbatuk oleh asap hitam  yang memenuhi ruangan. Sadar terhadap posisinya  yang tidak menguntungkan itu, Sukesih berteriak minta tolong. Tapi tak seorang pun berani  menolong mereka.  Sekilas wanita tua itu mendengar ada orang berteriak dari luar  nenek Sukesih dan dua cucunya  masih ada di dalam kamarnya. Setelah itu, di kamar  nenek Sukesih tak terdengar suara apapun, hingga keesokan harinya  didapati  nenek Sukesih dan dua cucunya sudah hangus menjadi arang.

 


Data yang kita peroleh  dari saksi mata dan pihak-pihak terkait,  dapat kita ungkap lewat feature seperti di atas.  Sebab, selain  straight news, pola tulisan semacam itu dapat memperkuat  berita kebakaran itu secara lengkap.

Coba anda perhatikan  data yang diungkap ke dalam tulisan tersebut. Anda perhatikan bagaimana nenek Sukesih mencoba menyelamatkan nyawa kedua cucunya tanpa peduli dengan nyawanya sendiri.

Itu artinya,  data yang kita kelola lewat wawancara dengan beberapa sumber (saksi mata) dapat dikembangkan dengan suasana kebakaran pada dinihari itu. Caranya? Kita harus menggunakan kepekaan instink  untuk mempelajari suasana saat kebakaran.

Kemudian kita tanyakan ke saksi mata usia nenek Sukesih dan usia dua cucunya (Deni dan Tuti).  Selain  kita  bertanya soal  asal api, berapa rumah yang hangus, serta  kelengkapan data lainnya,  tragika tentang tiga nyawa terpanggang api itu sangat bagus untuk diungkap.

Kepada walikota kita boleh bertanya soal apakah daerah itu dizinkan lagi untuk pembangunan rumah penduduk korban atau untuk lahan perkantoran. Kepada  kades/lurah kita tanyakan jumlah  penduduk dan lain sebagainya.

 

  • (Penulis adalah sastrawan dan wartawan)
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.